Berita Terbaru

Kunjungan Silaturahmi di Ponpes Al Fathaniyah, Kapolda Banten Irjen Pol Hendra Kurniawan Disambut Hangat KH Matin Syarkowi

By On Oktober 30, 2026

Kapolda Banten, Irjen Pol Hendra Kurniawan melaksanakan kunjungan silaturahmi dengan KH Matin Syarkowi, di Ponpes Al-Fathaniyah, Kamis, 22 Oktober 2026. 

SERANG, KabarXXI.Com - Kapolda Banten, Irjen Pol Hendra Kurniawan melaksanakan kunjungan silaturahmi dengan KH Matin Syarkowi, di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fathaniyah, Jalan Raya Pandeglang-Serang Km 03, Komplek Tembong Indah, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Kamis, 22 Oktober 2026. 

Dalam kesempatan tersebut, Kapolda Banten Irjen Pol Hendra Kurniawan dan Wakapolda Banten Brigjen Pol Zain Dwi Nugroho, didampingi Kapolresta Serang Kota Kombes Pol Yudha Satria, Direktur Reskrimum, Wadirlantas Polda Banten, dan disambut hangat oleh KH Matin Syarkowi, di Ponpes Al Fathaniyah. 

Kunjungan silaturahmi dilaksanakan sebagai upaya mempererat hubungan dan komunikasi antara Polda Banten dengan KH Matin Syarkowi selaku Pimpinan Ponpes Al-Fathaniyah. 

Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkuat sinergi antara Polri dan tokoh agama dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang aman dan kondusif di wilayah hukum Polda Banten. (*/red)

Kapolda Banten Irjen Pol Hendra Kurniawan Silaturahmi dengan Abuya Muhtadi dan Abuya Murtadho, Perkuat Sinergi Ulama dan Polri

By On Oktober 30, 2026

Kapolda Banten, Irjen Pol Hendra Kurniawan melaksanakan silaturahmi dengan ulama Kabupaten Pandeglang, Abuya Muhtadi. 

PANDEGLANG, KabarXXI.Com - Kapolda Banten, Irjen Pol Hendra Kurniawan melaksanakan silaturahmi dengan ulama Kabupaten Pandeglang, Abuya Muhtadi dan Abuya Murtadho, di kediaman masing-masing di Kampung Cidahu Lebak, Desa Tanagara, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Bantet, Selasa, 13 Oktober 2026. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mempererat hubungan antara Polri dan Ulama sekaligus memperkuat sinergi dalam menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di wilayah Provinsi Banten. 

Hendra Kurniawan terlebih dahulu bersilaturahmi dengan Abuya Muhtadi, kemudian melanjutkan kunjungan ke kediaman Abuya Murtadho. 

Dalam pertemuan tersebut, Kapolda Banten memohon doa restu agar dapat menjalankan amanah dengan baik, diberikan kelancaran dalam pelaksanaan tugas, serta memperoleh nasihat dan bimbingan dari para ulama dalam menjaga kondusivitas wilayah Banten. 

Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea menyampaikan bahwa silaturahmi yang dilakukan Kapolda Banten merupakan wujud komitmen Polri untuk terus membangun komunikasi dan mempererat hubungan kemitraan dengan para ulama sebagai bagian penting dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah Banten. 

“Silaturahmi ini menjadi langkah untuk mempererat hubungan antara Polri dan para ulama. Kami menyadari bahwa dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat diperlukan sinergi serta dukungan dari seluruh elemen masyarakat. Peran ulama sangat penting dalam memberikan nasihat, menyejukkan suasana, serta mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kerukunan dan kondusivitas wilayah,” ujar Maruli Ahiles. 

Maruli Ahiles menambahkan, ulama memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan, memperkuat kerukunan umat beragama, serta menanamkan nilai-nilai toleransi dan kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat. 

“Polda Banten akan terus memperkuat komunikasi dan sinergi dengan para ulama serta tokoh masyarakat. Melalui hubungan yang harmonis dan kolaborasi yang berkelanjutan, kami berharap upaya pemeliharaan kamtibmas dapat berjalan optimal sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas dengan aman, nyaman, dan damai,” tambahnya. 

Polda Banten berkomitmen untuk terus mengedepankan pendekatan humanis serta memperkuat kemitraan dengan tokoh agama dan masyarakat dalam mewujudkan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di Provinsi Banten. (*/red)

Pererat Silaturahmi, Kapolda Banten Irjen Pol Hendra Kurniawan Kunjungi Ponpes Assa’adah Cikeusal

By On Oktober 30, 2026

Kapolda Banten, Irjen Pol Hendra Kurniawan dan Wakapolda Banten, Brigjen Pol Zain Dwi Nugroho saat mengunjungi Ponpes Assa’adah, di Desa Dahu, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, Banten, Rabu, 28 Oktober 2026.

SERANG, KabarXXI.Com - Kapolres Serang, AKBP Moehamad Probandono Bobby Danuardi mendampingi Kapolda Banten, Irjen Pol Hendra Kurniawan  dan Wakapolda Banten, Brigjen Pol Zain Dwi Nugroho mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Assa’adah, di Desa Dahu, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, Banten, Rabu, 28 Oktober 2026. 

Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka mempererat tali silaturahmi dengan pengasuh Ponpes sekaligus memperkuat hubungan antara Polri dan kalangan ulama dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). 

Bobby Danuardi mengatakan, silaturahmi tersebut merupakan bagian dari upaya membangun komunikasi yang baik antara kepolisian dengan para tokoh agama, khususnya di wilayah Kabupaten Serang. 

“Melalui kegiatan silaturahmi ini, kami ingin mempererat hubungan antara Polri dengan para ulama sekaligus memperkuat sinergitas dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,” ujar Bobby. 

Menurutnya, Ponpes memiliki peran strategis dalam kehidupan bermasyarakat, tidak hanya sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai mitra Polri dalam menyampaikan pesan-pesan Kamtibmas kepada masyarakat. 

Bobby berharap, hubungan baik antara Kepolisian dan kalangan pesantren dapat terus terjalin sehingga bersama-sama mampu menjaga kerukunan, memperkuat persatuan, serta menciptakan suasana yang aman dan damai di tengah masyarakat. 

“Peran Ponpes sangat penting dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kerukunan dan persatuan. Karena itu, kami berharap sinergi antara Polri dan para ulama terus diperkuat,” katanya. 

Selain mempererat silaturahmi, kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan bagi jajaran Kepolisian untuk menyerap aspirasi, informasi, serta masukan dari pengasuh Ponpes terkait situasi Kamtibmas, baik di lingkungan pesantren maupun masyarakat sekitar. 

Kapolres Serang juga memohon doa dan dukungan dari pimpinan Ponpes Assa’adah beserta para santri agar seluruh personel Polri senantiasa diberikan kelancaran dan keselamatan dalam menjalankan tugas pelayanan, perlindungan, serta pengayoman kepada masyarakat. 

“Kami memohon doa dan dukungan dari para ulama serta santri agar pelaksanaan tugas Polri, khususnya Polda Banten dan Polres Serang, senantiasa berjalan lancar dan wilayah hukum Polda Banten tetap aman, kondusif, serta terhindar dari berbagai gangguan kamtibmas,” ucap Bobby. 

Kegiatan silaturahmi Kapolda Banten bersama rombongan di Ponpes Assa’adah dilanjutkan dengan salat Asar berjamaah. (*/red)

Gubernur Andra Soni Ingatkan Pejabat Jaga Amanah, Integritas, dan Kepercayaan Masyarakat

By On Oktober 29, 2026

Gubernur Banten, Andra Soni saat menghadiri acara Workshop Integritas dan Antikorupsi Sektor Eksekutif Pemprov Banten, di Aula DPUPR Provinsi Banten, KP3B, Kota Serang, Rabu, 28 Oktober 2026. 

SERANG, KabarXXI.Com - Gubernur Banten, Andra Soni mengingatkan kepada jajarannya agar tidak hanya menjadi pejabat yang mampu mengelola program, anggaran, dan organisasi. 

Ia meminta para pejabat untuk menjadi pemimpin yang mampu menjaga amanah, integritas, kepercayaan masyarakat, dan memberikan teladan kepada seluruh jajaran. 

Hal itu disampaikan Gubernur Andra Soni saat acara Workshop Integritas dan Antikorupsi Sektor Eksekutif Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten yang dilaksanakan, di Aula Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Provinsi Banten, KP3B, Kota Serang, Rabu, 28 Oktober 2026. 

Turut hadir, Deputi Korsupgah KPK Ely Kusumastuti, Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Akademi Integritas ACLC KPK Swasti Putri Mahatmi, serta seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Banten. 

Andra Soni menegaskan, Kepala OPD harus menjadi teladan. Sebagai pejabat, pemimpin, harus dapat memberikan contoh disiplin, jujur, dan menolak gratifikasi. Keteladanan pemimpin akan lebih kuat daripada hanya membersihkan instruksi kepada pegawai. 

Gubernur Andra Soni meminta agar terbentuk lingkungan kerja pegawai yang merasa aman untuk berkata benar, berani melaporkan penyimpangan melalui mekanisme yang tersedia dan tidak takut menjalankan tugas sesuai ketentuan. 

"Integritas itu bukan sekadar pengetahuan, melainkan sikap, nilai, dan keberanian untuk melakukan hal yang benar dalam setiap keadaan," katanya. 

Kemudian, para aparatur harus dapat menjaga kepercayaan masyarakat yang menjadi modal utama pemerintahan. Kepercayaan tidak dibangun melalui slogan, tetapi melalui konsistensi antara ucapan dan tindakan. 

Ketika pemimpin berintegritas, organisasi menurutnya akan bergerak dengan integritas. 

"Ketika pelayanan semakin baik, kepercayaan masyarakat kepada pemerintah akan semakin kuat," ujarnya. 

Andra Soni menjelaskan, sebagai pimpinan, perangkat daerah kerap berhadapan dengan berbagai kepentingan, baik kepentingan organisasi, masyarakat, dunia usaha, pribadi, maupun keluarga. 

Di sinilah menurutnya integritas seorang pemimpin diuji dan kepentingan publik harus selalu didahulukan. 

Demikian pula dalam hal gratifikasi. Setiap gratifikasi yang berhubungan dengan jabatan dan berlawanan dengan kewajiban atau tugas, wajib ditolak. 

Apabila tidak dapat ditolak, para perangkat wajib laporkan kepada KPK paling lambat 30 hari kerja sejak diterima. 

Apabila menghadapi situasi yang meragukan, ia meminta jangan mengambil keputusan sendiri. 

"Konsultasikan, laporkan, dan gunakan mekanisme pengendalian yang telah disediakan," katanya. 

Lebih lanjut Gubernur Andra Soni menegaskan, jika Pemprov Banten berkomitmen untuk terus memperkuat tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berintegritas. 

Gubernur Andra Soni ingin Banten maju dalam kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan yang adil merata, di mana setiap anggaran benar-benar kembali menjadi manfaat bagi masyarakat. 

"Tidak korupsi sebagai syarat utama untuk mewujudkan semua itu," katanya. 

Terakhir, kepada para Kepala OPD, Gubernur Andra Soni meminta tiga hal. Pertama, jadilah teladan integritas di unit kerja masing-masing. 

Kedua, perkuat sistem pengendalian di unit kerja dan menindaklanjuti rekomendasi KPK dan Inspektorat, serta manfaatkan sistem digital untuk menutup celah penyimpangan. 

Ketiga, menindaklanjuti workshop ini dengan rencana aksi antikorupsi yang nyata dan terukur. 

"Ini merupakan momentum untuk memperbarui komitmen kita bersama, bekerja dengan jujur, melayani dengan tulus, menggunakan kewenangan secara bertanggung jawab, menghindari konflik kepentingan dan menolak segala bentuk pemberian yang dapat memengaruhi independensi dalam menjalankan tugas," jelasnya. 

Sementara itu, Deputi Korsupgah KPK, Ely Kusumastuti mengapresiasi niat baik yang dilakukan Gubernur Banten Andra Soni bersama-sama dengan KPK untuk melakukan berbagai perbaikan tata kelola pemerintahan yang lebih baik dalam rangka mengoptimalkan pembangunan dan mencegah kebocoran anggaran. 

Sehingga berbagai target pembangunan yang dilakukan dapat tercapai dengan baik. 

Terakhir, Eli menilai tata kelola Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) di Pemprov Banten sudah cukup baik atau berada pada zona hijau. 

Namun demikian, masih dibutuhkan penguatan di sektor lainnya dalam rangka pendidikan dan pencegahan korupsi seperti pelayanan publik dan itu sudah mendapat atensi langsung dari Gubernur Banten, Andra Soni. (Welfendry)

Bupati Serang Jenguk Hasan Syukur, Ojol asal Ciomas Korban Tabrakan BYD

By On Oktober 29, 2026

Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah saat menjenguk Hasan Syukur, warga Kampung Ciakar, Desa Siketug, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, Banten, di RS Fatmawati, Jakarta, Rabu 28 Oktober 2026. 

SERANG, KabarXXI.Com - Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah menjenguk Hasan Syukur, warga Kampung Ciakar, Desa Siketug, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, Banten, di Rumah Sakit (RS) Fatmawati, Jakarta, Rabu 28 Oktober 2026. 

Hasan Syukur adalah korban kecelakaan di Jakarta, beberapa waktu lalu. Pengemudi Ojek Online (Ojol) ini dilindas hingga terluka serius oleh pemobil BYD. Hingga kemarin, kondisinya masih kritis. 

“Kami ke sini dalam rangka menjenguk korban yang ditabrak di Jakarta karena korban adalah warga Kabupaten Serang yang berasal Desa Siketug, Kecamatan Ciomas. Kami datang bersama dengan Dirut BPJS Ketanagakerjaan baik Serang, Banten, dan ada juga dari Jakarta,” kata Bupati Ratu Zakiyah usai menjenguk korban di Jakarta. 

Hasan Syukur adalah warga Kampung Ciakar, Desa Siketug, Kecamatan Ciomas yang sebelumnya sudah didaftarkan menjadi salah satu penerima manfaat BPJS Ketenagakerjaan (BPJS TK) dari kelompok rentan. 

“Semua biaya perawatan sudah ditanggung. Di Kabupaten Serang ada 59.215 pekerja rentan yang kami daftarkan ke BPJS Ketanagakerjaan, termasuk di dalamya Pak Hasan Syukur ini,” ujarnya. 

Program BPJS Ketenagakerjaan yang diinisiasi oleh Bupati Serang ini saat ini sudah langsung berdampak bagi penerima manfaat yakni pekerja rentan. 

"Korban diberikan pengobatan medis secara komprehensif sampai sembuh total," ujarnya. 

Semua pembiayaan selama perawatan ditanggung BPJS TK. Selama dalam perawatan di RS, korban juga mendapatkan santunan Rp1 juta setiap bulan karena korban belum dapat bekerja lagi sebagai ojek online di Jakarta. 

Selain mendapatkan santunan dari BPJS TK, keluarga korban tadi juga mendapatkan santunan dari Bupati. 

"Ya, saya juga tadi memberikan santunan buat keluarga di sini yang menjaga korban di rumah sakit," katanya. 

Bupati juga mengucapkan terima kasih kepada BPJS TK dan juga Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto. 

"Kami atas nama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang mengucapkan terima kasih kepada BPJS TK dan juga Bapak Kapolri Jenderal Suyudi yang sudah merespons cepat kasus ini," ujarnya. 

Pemkab Serang saat ini mendaftarkan 59.215 pekerja rentan sebagai peserta BPJS TK. Mereka terdiri atas Ojol, Kades dan Perangkat Desa, BPD, kader Posyandu, RT, RW, Balawista, dan guru ngaji. Kemudian 100 pekerja rentan di setiap desa di semua wilayah Kabupaten Serang. 

Program jaminan bagi pekerja rentan ini sesuai dengan amanat Undang-Undang dan Permendagri No 14 Tahun 2025. 

Berdasarkan UU dijelaskan bahwa Pemda wajib mengalokasikan anggaran untuk perlindungan pekerja rentan melalui mekanisme bantuan iuran jaminan sosial ketenagakerjaan. 

Langkah ini didasarkan pada mandat perlindungan sosial dalam konstitusi yang kemudian diturunkan ke dalam Undang-Undang, Instruksi Presiden, hingga Peraturan Menteri. 

Program perlindungan terhadap pekerja rentan di Kabupaten Serang diluncurkan pada 14 Juli 2026 yang merupakan inisiasi Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah. 

Selama menjenguk korban di Jakarta, Bupati Serang ditemani Asda I Syamsudin, Kepala DPMD Rudy Suhartanto, Camat Ciomas Ugun Gumilang, dan Kades Siketug. (*/red)

Mahasiswi di Padang Terjepit Tiang Kos-kosan, Dievakuasi Damkar

By On Oktober 29, 2026

Seorang mahasiswi bernama Manda (19) mengalami insiden tak terduga di depan rumah kos-kosannya, Jalan Flores Nomor 17, Kelurahan Ulak Karang Utara, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sumbar, Rabu malam, 28 Oktober 2026. 

PADANG, KabarXXI.Com – Seorang mahasiswi bernama Manda (19) mengalami insiden tak terduga di depan rumah kos-kosannya yang berlokasi di Jalan Flores Nomor 17, Kelurahan Ulak Karang Utara, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Rabu malam, 28 Oktober 2026. 

Tubuh Manda terjepit di sela-sela tiang penyangga pondok di depan area rumah kos-kosan selama kurang lebih dua jam hingga kondisinya lemas. 

Proses evakuasi akhirnya dilakukan oleh tim Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang. 

Kepala Bidang Operasional dan Sarana Prasarana (Kabid Ops dan Sarpras) Dinas Damkar Kota Padang, Rinaldi membenarkan adanya kejadian penanganan darurat (rescue) tersebut. 

"Menurut keterangan saksi, korban sempat berusaha membebaskan diri. Namun, karena posisi kaki yang tersangkut cukup erat dan sudah terjebak sekitar dua jam, korban mulai kelelahan hingga kondisinya lemas," kata Rinaldi kepada wartawan, Kamis, 29 Oktober 2026. 

Peristiwa tersebut bermula ketika Manda hendak duduk di area pondok depan rumah kos-kosanya. 

Tanpa sengaja, kakinya masuk ke sela-sela tiang penyangga pondok tersebut. 

Namun, saat berupaya mengeluarkan kakinya, posisi tubuh korban justru tersangkut dan sulit digerakkan. 

Karena upaya mandiri tidak berhasil dan kondisi Manda kian melemah, salah seorang rekannya, Hajila (19), menghubungi layanan darurat Damkar Kota Padang. 

Laporan darurat tersebut diterima oleh pihak Damkar sekitar pukul 21.45 WIB. 

Menindaklanjuti laporan warga, Dinas Damkar Kota Padang menerjunkan 15 personel dari Peleton C, didukung satu unit armada rescue dan satu unit armada komando ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). 

Menurut Rinaldi, proses evakuasi dilakukan dengan ekstra hati-hati agar tidak menimbulkan cedera pada bagian tubuh maupun kaki korban yang terhimpit. 

"Petugas melakukan peregangan pada sela-sela tiang penyangga secara perlahan. Setelah penanganan kurang lebih 44 menit, korban akhirnya berhasil dievakuasi dengan selamat sekitar pukul 22.41 WIB," ujar dia. 

Setelah berhasil dibebaskan, Manda yang berada dalam kondisi lemas langsung mendapatkan penanganan medis awal untuk memulihkan staminanya. 

Atas kejadian ini, Rinaldi mengimbau masyarakat Kota Padang untuk tidak ragu memanfaatkan layanan darurat jika menghadapi situasi yang membahayakan jiwa atau membutuhkan penanganan teknis khusus. (*/red)

Dua Perempuan di Surabaya Diduga Dijual Suami lewat Facebook, Tarif Rp 700 Ribu

By On Oktober 29, 2026

Kasat PPA-PPO Polrestabes Surabaya, Kompol Melati Sari. 

SURABAYA, KabarXXI.Com - Pihak Kepolisian mengungkap dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus eksploitasi seksual di Surabaya, Jawa Timur (Jatim). 

Pelakunya adalah suami yang menjual istrinya lewat media sosial Facebook untuk melayani pria hidung belang.

Kasatres PPA dan PPO Polrestabes Surabaya, AKBP Melatisari mengatakan, ada dua pelaku yang diamankan dalam dugaan TPPO itu, yaitu WBS (39) dan RW (25). 

Dari hasil penyelidikan, kedua pelaku berperan sebagai muncikari. Tersangka WBS (39) diduga menjual istrinya untuk memenuhi fantasi seks. 

"Yang pertama dengan korban RKR (37) dan tersangka WBS. Motifnya dia menjual istrinya dengan dugaan fantasi seks," kata Melatisari kepada wartawan, Rabu, 28 Oktober 2026. 

Sementara RW (25) diduga melakukan TPPO karena alasan ekonomi. 

"Kemudian yang satu lagi korban SNK dan tersangka RW. Ini suami istri, yang kemudian menjual istrinya dengan dengan alasan ekonomi," ujarnya. 

Menurut Melatisari, pelaku sudah melakukan tindakan tersebut lebih dari empat kali. Tarif layanannya berkisar antara Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta. 

"Tarifnya antara Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta sekali main. Dipasarkan melalui Facebook," pungkasnya. (*/red)

Polda Jatim Gelar Pra-Rekonstruksi Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, Tersangka Peragakan 48 Adegan

By On Oktober 29, 2026

Tersangka DBM memperagakan salah satu adegan dalam pra rekonstruksi kasus pembunuhan terhadap istri siri dan anaknya di Kota Madiun, Jatim, Selasa malam, 27 Oktober 2026. 

MADIUN, KabarXXI.Com – Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur (Jatim) menggelar pra-rekonstruksi kasus pembunuhan ibu dan anak, DH (30) dan AGF (4), di Kota Madiun, Jatim, Selasa, 27 Oktober 2026. 

Dalam kegiatan tersebut, tersangka Dwi Bagus Martono dihadirkan secara langsung ke tiga Tempat Kejadian Perkara (TKP). 

Sebanyak 48 adegan diperagakan untuk menguji serta mencocokkan keterangan tersangka dengan fakta di lapangan. 

Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Jumhur Arbaridi mengatakan, seluruh adegan diperagakan guna memastikan kesesuaian kronologi pembunuhan ibu dan anak ini. 

"Sebanyak 48 adegan diperagakan untuk mencocokkan keterangan tersangka dengan rangkaian kejadian di lokasi perkara," kata Jumhur usai pra-rekonstruksi, Selasa, 27 Oktober 2026. 

Rangkaian 48 adegan dalam pra-rekonstruksi kasus pembunuhan di Madiun tersebut dilaksanakan di tiga titik lokasi berbeda: 

TKP Pertama: Hotel Mataram Baru, Jalan dr Soetomo, Kelurahan Madiun Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun. 

TKP Kedua: Rumah orang tua tersangka di Gang Tentrem, Jalan Doho, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun. 

TKP Ketiga: Rumah pribadi tersangka di Jalan Kunir Nomor 13, Kelurahan Ngegong, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun. 

Menurut Jumhur, pra-rekonstruksi dimulai dari hotel tempat korbannya, DH , meninggal dunia. 

Penyidik meragakan awal kedatangan tersangka dan korban di area resepsionis hotel hingga terjadi perselisihan yang berujung fatal. 

"Tadi kita TKP pertama di hotel. Kita lakukan peragaan-peragaan, mulai dia di resepsionis dengan komunikasi, dan akhirnya terjadi percekcokan, dan akhirnya mengakibatkan korban meninggal dunia di sana," ujar dia. 

Adegan dilanjutkan saat tersangka membawa jenazah korban keluar dari kamar hotel. Proses ini selaras dengan bukti rekaman kamera pengawas (CCTV) yang dikantongi penyidik. 

Tersangka memperagakan saat dirinya mengambil sleeping bag (kantong tidur) untuk memasukkan jenazah DH sebelum diangkut menggunakan mobil. 

Rombongan penyidik kemudian bergerak ke lokasi kedua, yaitu rumah orang tua tersangka di Jalan Doho, Madiun. 

Di tempat ini, tersangka meragakan peristiwa saat menghentikan nyawa anak Dini, AGF (4), yang berada di dalam mobil Suzuki Karimun terparkir. 

Jumhur mengatakan, pada titik kedua ini terdapat penyesuaian adegan berdasarkan klarifikasi bersama tersangka. 

"Di TKP kedua, di rumah orang tuanya, tadi ada adegan yang kurang pas. Kita diskusikan dan kita perbaiki terkait dengan cara tersangka menghabisi anak AGF sampai akhirnya meninggal dunia," ujar Jumhur. 

Selanjutnya, pra-rekonstruksi bergeser ke lokasi ketiga di rumah pribadi tersangka, Jalan Kunir. 

Lokasi ini diduga menjadi tempat tersangka melakukan tindakan penghilangan jejak terhadap kedua korban. 

Tersangka diketahui telah menyiapkan sejumlah peralatan pendukung, termasuk kayu bakar, beberapa hari setelah peristiwa di hotel. 

Penyidik juga mendalami keberadaan sebuah tungku di lokasi tersebut. 

Menurut penyidik, tungku tersebut sengaja dibuat tersangka setelah proses penghilangan sisa jenazah selesai dilakukan. 

"Tungku itu dibuat setelah ada pembakaran di situ, setelah abunya dibersihkan dan dilarutkan. Jadi, tungku itu untuk menutupi," kata Jumhur. 

Selain mendatangi lokasi pembuangan sisa abu di kawasan Jembatan Sungai Winongo, polisi menaruh perhatian khusus pada sebuah mesin pencacah yang sempat dibeli tersangka. 

Mesin pencacah tersebut dibeli tersangka setelah kejadian, lalu dijual kembali hanya dua hari kemudian melalui bantuan rekannya. 

"Yang menarik, tersangka membeli mesin itu setelah proses pembakaran. Setelah digunakan, dua hari kemudian menyuruh temannya menjualnya. Ini harus didalami," ujar Jumhur. 

Saat ini, barang bukti berupa mesin pencacah, sisa abu dari tungku, serta beberapa sampel bagian tulang telah diamankan dan diserahkan ke Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim. 

Hasil uji laboratorium akan menentukan karakteristik sampel tulang yang ditemukan. 

Terkait motif pembunuhan, penyidik masih terus melakukan pendalaman. 

Dugaan sementara mengindikasikan percekcokan di hotel berawal dari masalah hubungan asmara dan permintaan perhatian lebih dari korban. (*/red)

Niat Tolong Siswi SMP dari Pemerkosaan, Lansia di Lamongan Tewas Dianiaya

By On Oktober 29, 2026

Kasi Humas Polres Lamongan, Ipda M Hamzaid, saat memberi keterangan kepada awak media. 

LAMONGAN, KabarXXI.Com - Viral di media sosial tentang seorang lanjut usia (Lansia) berinisial R (65), warga Kecamatan Karanggeneng yang meninggal karena dianiaya saat berusaha menolong seorang siswi SMP yang hendak diperkosa. 

Warganet mendesak polisi segera menuntaskan kasus itu dan menangkap terduga pelaku. 

Peristiwa tersebut ramai diperbincangkan setelah diunggah melalui media sosial Threads pada Rabu, 28 Oktober 2026. 

Berdasarkan informasi yang disampaikan pengunggah, insiden bermula ketika seorang pria berinisial S (34) diduga hendak melakukan pelecehan seksual atau pemerkosaan terhadap seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku SMP. 

Siswi SMP yang diduga keponakan pelaku itu berteriak-teriak meminta tolong. Datang lah R yang berupaya menolong siswi yang merupakan tetangganya itu. 

Korban percobaan pemerkosaan itu berhasil kabur mencari bantuan. Namun, lansia yang sehari-hari berjualan kerupuk rumahan itu justru jadi sasaran penganiayaan. 

Berdasarkan keterangan saksi yang disampaikan dalam informasi yang beredara di media sosial, korban diduga dianiaya secara brutal oleh S. 

Kepalanya dibenturkan ke tembok dan tubuhnya ditusuk menggunakan obeng. 

Akibat penganiayaan itu R sempat menjalani perawatan secara intensif di rumah sakit selama kurang lebih sepekan. 

Namun, nyawanya tidak tertolong. R dinyatakan meninggal sementara S berhasil kabur dan belum berhasil ditemukan hingga saat ini. 

Kasus ini memicu perhatian publik. Warganet meminta aparat kepolisian segera mengungkap kasus ini dan menangkap S sebagai terduga pelaku penganiayaan. 

Kasi Humas Polres Lamongan, Ipda M Hamzaid membenarkan bahwa pihaknya telah menindaklanjuti laporan terkait peristiwa tersebut. 

Polisi kini melakukan penyelidikan dan upaya penangkapan terhadap terduga pelaku. 

"Nggeh, sudah ada dan sudah kami lakukan proses penyelidikan serta upaya penangkapan terhadap terduga pelaku," ujar Hamzaid kepada wartawan, Rabu, 28 Oktober 2026. 

Hamzaid menyebut, pihaknya telah menerjunkan tim untuk melakukan penyelidikan di lapangan. 

Petugas masih berupaya menemukan dan mengamankan S, yang disebut merupakan tetangga korban. 

"Kami dari Jajaran Polres Lamongan telah menangani kejadian di atas dan telah melakukan serangkaian proses penyelidikan untuk terduga pelaku. Saat ini masih dalam upaya Penangkapan," ujarnya. 

Berdasarkan informasi yang beredar, terduga pelaku dikabarkan berada dalam pengawasan keluarga karena diduga mengalami gangguan kejiwaan. 

Meski demikian, informasi tersebut masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut oleh pihak berwenang. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi kejadian itu. (*/red)

Pimpinan KPK Usul Rampas Harta Pejabat yang Tidak Dimasukkan dalam LHKPN

By On Oktober 29, 2026

Wakil Ketua KPK, Johanis Tanak. 

JAKARTA, KabarXXI.Com - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Johanis Tanak memberi usul terkait Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset terkait Tindak Pidana (RUU Perampasan Aset). 

Menurutnya, RUU itu mengatur agar negara dapat merampas aset penyelenggara negara yang tidak tercantum LHKPN. 

"Seseorang yang melaporkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN), dan ternyata kekayaan yang sesungguhnya melampaui batas yang dilaporkan di LHKPN, maka harta itu berhak dirampas," ujar Tanak kepada wartawan, Selasa, 27 Oktober 2026. 

Dia juga mengusulkan negara dapat merampas harga pejabat yang tidak melaporkan LHKPN. 

Menurut Tanak, RUU Perampasan Aset juga harus mengatur mekanisme jika pejabat itu keberatan dengan perampasan. 

"Iya, termasuk pejabat yang wajib melapor LHKPN, tetapi tidak melapor, maka harta kekayaannya dirampas saja oleh negara berdasarkan UU Perampasan aset," ujar dia. 

Usulan tersebut, kata dia, disampaikan untuk mencegah pejabat asal melapor harta di LHKPN. 

Dia menegaskan, harta yang tertera dalam LHKPN harus sesuai kenyataan.

"Kalau hal seperti ini diatur di dalam UU Perampasan Aset, semua penyelenggara negara tidak akan berani membuat laporan LHKPN yang tidak benar. Pasti mereka melapor LHKPN dengan benar," uja dia. 

Di sisi lain, dia mengusulkan agar nomenklatur RUU Perampasan Aset tidak diubah. 

Menurutnya, UU Tindak Pidana Korupsi juga banyak menggunakan kata perampasan.

"Memang lebih layak itu istilah atau nomenklatur perampasan daripada menggunakan nomenklatur yang lain, karena dalam Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juga banyak menggunakan kata-kata atau nomenklatur perampasan," tuturnya. 

"Jadi, kata-kata atau nomenklatur perampasan itu bukan hal yang tabu, atau bukan hal yang tidak biasa. Itu hal biasa diatur dalam Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi," imbuhnya. (*/red)

Menko Yusril Tegaskan Unsur Kerugian Negara Tak Akan Dihapus dalam Definisi Korupsi

By On Oktober 29, 2026

Menko Kumham Imipas, Yusril Ihza Mahendra di kantor DEN, Jakarta Pusat, Selasa, 27 Oktober 2026. 

JAKARTA, KabarXXI.Com - Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra mengatakan, pemerintah tidak akan menghapus unsur kerugian negara dalam Undang-Undang tentang Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor). 

Menurut Yusril, pemerintah justru ingin mempertegas pendefinisian kerugian negara dalam UU tersebut demi kepastian hukum. 

"Kita bukan mau menghapuskan unsur kerugian negara yang banyak sekali disalahpahami oleh masyarakat, tapi justru ingin mempertegas sebenarnya apakah yang dimaksud dengan kerugian keuangan negara itu sendiri. Jadi di dalam diskusi-diskusi itu tidak ada niatan untuk menghapus kata-kata merugikan keuangan negara itu,” ujar Yusril saat Konferensi Pers di kantor Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Jakarta, Senin, 27 Oktober 2026. 

Yusril menegaskan, pendefinisian tindak pidana korupsi harus dilakukan untuk memberikan kepastian hukum, memudahkan pemberantasan korupsi, dan menjaga citra negara. 

"Orang ngomong begini, 'Indonesia kok korupsi melulu, banyak betul korupsinya.' Ya karena rumusannya begitu. Kalau rumusan yang sama diterapkan di Jepang atau di Singapura, korupsi di Jepang dan Singapura sama banyaknya dengan sini. Karena di sini dianggap korupsi, di sana tidak dianggap korupsi,” ujar dia. 

Dia mencontohkan saat pemerintah membentuk Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Unddang (Perpu) tentang terorisme. 

Saat itu, kata dia, pemerintah tidak mencantumkan definisi terorisme, namun mengatur tindakan-tindakan yang masuk dalam kategori terorisme. 

"Jadi kalau begitu, kalau nanti undang-undang korupsi juga disepakati seperti itu, akan menjadi sangat jelas perbuatan apa saja yang dikategorikan sebagai perbuatan korupsi. Di luar itu, dia bukan korupsi. Tapi bukan korupsi itu bukan tidak bisa ditindak, dia bisa ditindak tapi masuk kategori tindak pidana yang lain,” ujar dia. 

Yusril mengatakan,  pertemuannya dengan Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan juga membahas pentingnya pendefinisian tentang keuangan negara karena banyak tercantum dalam aturan perundang-undangan. 

"Oleh karena itu, demi kepastian hukum di negara kita ini, sangat perlu kita mempertegas arti dari keuangan negara itu sendiri dan kemungkinan juga pengertian perekonomian negara itu mungkin dari diskusi-diskusi sebelumnya itu ada usulan untuk dihilangkan tapi belum sampai kepada satu kesimpulan final,” ujar Yusril. 

Diketahui sebelumnya, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan mengusulkan ke Presiden RI Prabowo Subianto bahwa kerugian negara bukan bagian dari definisi korupsi. 

Hal ini merupakan kajian DEN yang merujuk pada United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) atau Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Melawan Korupsi yang diratifikasi Indonesia lewat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006. 

"Ya itu kami mengacu kepada UN Charter mengenai definisi korupsi, di mana definisi korupsi di UN Charter yang sudah diratifikasi oleh Indonesia 20 tahun yang lalu adalah bribery, penyuapan. Jadi tidak bicara mengenai kerugian negara," kata Luhut di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026. 

"Tadi Presiden juga setuju dengan kajian yang dibuat oleh tim dari Dewan Ekonomi Nasional mengenai definisi korupsi. Karena itu penting untuk supaya masalah penanganan korupsi di Indonesia itu berstandar internasional," ujarnya. 

Selama ini, kata Luhut, Indonesia menjadi negara yang menerapkan kerugian negara sebagai korupsi. 

"Karena Indonesia satu-satunya negara yang menerapkan masalah kerugian negara dan ini memang memberatkan kepada seperti Danantara untuk membuat bisnis yang tentu setiap bisnis apa pun pasti ada risikonya," ujarnya. 

Namun, Luhut meluruskan pernyataannya bahwa ia tetap berpendapat bahwa kerugian keuangan negara tidak dihapuskan dari rumusan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). 

"Kerugian keuangan negara tetap menjadi unsur dalam UU Tipikor, dan uang negara yang diselewengkan tetap harus dikembalikan. Yang kami usulkan adalah agar pembuktiannya jelas dan objektif, sehingga pelaku korupsi tidak lolos, dan seseorang yang mengambil keputusan atau tindakan dengan itikad baik tidak dipidana tanpa dasar. Pada saat yang sama, kami mengusulkan penambahan delik baru agar jangkauan pemberantasan korupsi semakin luas," ujar Luhut dalam keterangan resminya dikutip dari laman DEN, Kamis, 22 Oktober 2026. 

DEN dalam posisi bahwa Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tipikor serta Pasal 603 dan Pasal 604 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tetap dipertahankan. 

Selain itu, pertanggungjawaban pidana dan pemulihan atas kerugian keuangan negara tetap berlaku. Menyoal Risiko Penghapusan Delik Kerugian Negara dari UU Tipikor. 

Adapun yang disempurnakan adalah cara membuktikan unsur-unsur tindak pidana tersebut, bukan keberadaan unsur kerugian negara. 

Sedangkan jangkauan pemberantasan korupsi diperluas, lewat penambahan delik United Nations Convention against Corruption (UNCAC) yang belum diatur dalam hukum nasional, antara lain penyuapan terhadap pejabat publik asing. 

Luhut menjelaskan, kepastian hukum merupakan prasyarat yang tidak dapat ditawar di tengah upaya pemerintah mempercepat investasi dan menjaga momentum pertumbuhan. (*/red)

Malaysia Tawarkan Pesawat Amfibi dan Helikopter untuk Bantu Padamkan Karhutla

By On Oktober 29, 2026

Pesawat amfibi Viking Air CL-515.(Viking Air). 

JAKARTA, KabarXXI.Com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membahas tawaran bantuan dari Malaysia untuk penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), di antaranya satu pesawat amfibi CL-415MP, satu helikopter Mi-171, serta 44 personel yang terdiri atas awak dan teknisi.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan menyampaikan hal itu dibahas dalam pertemuan Kepala BNPB Kristomei Sianturi dengan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Muzafar Shah Mustafa di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026. 

Dukungan tersebut akan dikaji lebih lanjut agar sesuai dengan kebutuhan operasi dan kondisi aktual di lapangan. 

"Tawaran ini menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk menjajaki dukungan yang dapat menunjang operasi penanganan karhutla di Indonesia," ujar Berton dalam keterangannya, Rabu, 28 Oktober 2026. 

Selain dukungan operasional, kata Berton, BNPB dan Pemerintah Malaysia menjajaki kerja sama dalam bidang teknologi, meliputi pemantauan dan deteksi dini, pengumpulan serta analisis data, penilaian situasi terdampak, strategi pemadaman, riset dan inovasi. Lalu juga koordinasi teknis hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia. 

BNPB selanjutnya akan berkoordinasi secara teknis dengan Agensi Pengurusan Bencana Negara (NADMA) Malaysia, dengan fasilitasi Kementerian Luar Negeri, yaitu untuk membahas kesesuaian bantuan, kesiapan pengerahan, kebutuhan logistik, prosedur keselamatan penerbangan, serta alternatif dukungan apabila asap tebal dan jarak pandang rendah membatasi efektivitas operasi udara. 

"Seluruh bentuk dukungan internasional akan disesuaikan dengan kebutuhan penanganan bencana dan ketentuan yang berlaku, dengan kendali operasi tetap berada pada Pemerintah Indonesia," ujar dia. 

Berton juga mengatakan, penanganan karhutla saat ini dilaksanakan secara terpadu melalui pemadaman darat, pemadaman udara menggunakan helikopter water bombing, serta operasi modifikasi cuaca di bawah koordinasi teknis BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 

"BNPB berharap kerja sama bilateral Indonesia-Malaysia dapat menghasilkan dukungan konkret yang tepat guna sekaligus membuka peluang pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana kedua negara," ujar dia. (*/red)

Cegah Karhutla, Mendagri Minta Pemda Perkuat Regulasi hingga Maksimalkan Anggaran

By On Oktober 29, 2026

Mendagri, Muhammad Tito Karnavian. 

JAKARTA, KabarXXI.Com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian meminta Pemerintah Daerah (Pemda) memperkuat regulasi untuk mencegah pembakaran lahan dalam penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). 

Selain memastikan larangan tersebut berlaku tanpa terkecuali, Mendagri juga meminta Pemda mengoptimalkan penggunaan anggaran penanganan Karhutla.

Arahan tersebut disampaikan Tito saat menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Pembahasan Kebakaran Hutan dan Lahan secara daring dari Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026. 

Menurut Tito, Karhutla berdampak luas terhadap berbagai sektor, mulai dari ekonomi, kesehatan masyarakat, hingga kelestarian flora dan fauna. 

Kebakaran juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan serta memicu ketegangan diplomatik.

Oleh karena itu, kata dia, penanganan Karhutla perlu dilakukan melalui pemadaman sekaligus pencegahan munculnya titik api baru. 

"Ketika sudah terjadi kebakaran, maka yang kita lakukan adalah all out mobilisasi segala kekuatan daya untuk melakukan pemadaman. Tapi, paralel dengan itu, perlu juga upaya untuk mencegah terjadinya pembakaran baru," ujar Tito. 

Terkait upaya pencegahan, ia menegaskan bahwa larangan pembukaan lahan dengan cara membakar selama masa bencana berlaku tanpa terkecuali, termasuk terhadap praktik yang sebelumnya diperbolehkan melalui pengaturan kearifan lokal. 

Kebijakan tersebut diperkuat melalui Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla serta Larangan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar dalam Kondisi Risiko Karhutla tertanggal 22 Agustus 2026. 

Ketentuan tersebut juga diperkuat dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 11 Tahun 2026 tentang Penguatan Penegakan Larangan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan yang ditetapkan pada 31 Agustus 2026.

Tito meminta daerah yang masih memiliki Peraturan Daerah (Perda) terkait perizinan pembakaran lahan untuk segera mencabut ketentuan tersebut. 

Ia juga meminta Pemda mengidentifikasi pihak-pihak yang biasa melakukan pembakaran lahan untuk diberikan peringatan tegas. 

Upaya tersebut, kata dia, perlu melibatkan Kepala Desa, Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari TNI, Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) dari Polri, serta Tokoh Adat dan masyarakat setempat. 

"Bagi daerah yang belum mencabut aturan yang membolehkan membakar dua hektar (ha), segera untuk (melakukan) pencabutan. Kami pasti akan monitor," tegas dia. 

Di sisi lain, pemerintah pusat telah menyalurkan bantuan untuk mendukung penanganan Karhutla di daerah. 

Bantuan tahap pertama senilai Rp 760 miliar disalurkan pada 7 September 2026, disusul tahap kedua sebesar Rp 480 miliar pada 21–23 Oktober 2026. 

Anggaran tersebut dapat digunakan untuk operasional posko pengungsian, distribusi logistik, evakuasi masyarakat, serta bantuan kesehatan medis, seperti masker, vitamin/obat-obatan, dan oksigen portabel. 

Untuk mempercepat pemanfaatan bantuan tersebut, Kemendagri menerbitkan Surat Edaran (SE) Mendagri Nomor 300.2.8/6460/SJ tentang Penggunaan Bantuan Pemerintah Pusat dan Bantuan Keuangan dari Pemda Lainnya kepada Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota di Wilayah Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kalsel, dan Kaltim dalam rangka Penanganan Karhutla. 

SE yang ditetapkan pada 9 September 2026 itu memberikan ruang bagi kepala daerah untuk menggunakan bantuan melalui mekanisme Belanja Tidak Terduga (BTT). 

"Penggunaan anggaran agar digunakan semaksimal dan secepat mungkin, jangan disimpan, apalagi digunakan (untuk) kepentingan di luar bencana," tegasnya. 

Rapat yang dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman tersebut turut dihadiri Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI Bobby Rinal Makmun, serta Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops) Kapolri Roycke Harry Langie. (*/red)

BRIN Segera Uji Coba Inovasi OMC dan Teknologi Singkong untuk Atasi Karhutla

By On Oktober 29, 2026

Kepala BRIN, Arif Satria. 

JAKARTA, KabarXXI.Com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan segera melakukan uji coba pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), dengan memanfaatkan tepung atau pati singkong yang dicampurkan amonium polifosfat (APP). 

"Ya kami sudah siap ini. Jadi minggu ini kami sudah siap, kami kemarin sore sudah koordinasi dengan TNI AU ya dan pasukan sudah siap semua," kata Kepala BRIN, Arif Satria kepada wartawan sebelum Rapat Terbatas (Ratas) dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026. 

Menurut Arif, BRIN telah mendapatkan bahan baku untuk APP yang akan dicampurkan dengan pati singkong. 

APP tersebut, kata Arif, juga telah menjalani pengujian di lokasi atau on-site. 

“Yang singkong itu, kan harus ada APP-nya itu ya. Nah, APP-nya kita sudah dapatkan, yang sudah diuji on-site. Nah kemarin juga sudah kita laporkan juga. Sudah kita laporkan bahwa ini sudah siap untuk diuji di lapangan,” ujar dia. 

Selain itu, kata Arif, bahwa BRIN juga akan mencoba beberapa inovasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menyebarkan material Dumikron, yakni partikel NaCl berukuran 2-5 mikron. Kemudian, juga uji coba teknologi Cloud Seeding Agent Tube (coSAT) yang merupakan bahan semai yang dikembangkan untuk keperluan OMC dan dry ice. 

“Jadi Insya Allah kita akan mencoba untuk beberapa inovasi ya, terkait dengan OMC untuk dumikron, nah ya. Kemudian teknologi coSAT ya, kemudian teknologi dry ice. Nah dry ice kan sudah, sudah dipakai ya di lapangan, sudah beberapa hari ini,” ujar dia. 

Saat ini, kata Arif, BRIN telah melakukan kolaborasi dengan TNI AU, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hingga Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk mempercepat uji coba sejumlah teknologi baru dalam penanganan Karhutla. 

“Jadi saya yakin, Insya Allah kolaborasi kita dengan TNI AU, dengan BNPB, dan juga dengan BMKG ini, serta Kemenhub. Saya, insyaallah besok juga akan ada pertemuan dengan Menhub ya, untuk mempercepat proses ini juga,” ujarnya. (*/red)

Relevansi Pikiran Bung Hatta soal Korupsi

By On Oktober 28, 2026

Penampakan tong biru berisi Rp 934 juta yang disita KPK dari OTT Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo. 

Oleh: Abdul Khalid 

"Korupsi di Indonesia bukan lagi penyakit, melainkan sudah menjadi kebudayaan." (Mohammad Hatta, 1974) 

Kutipan legendaris Bung Hatta di atas mengenai korupsi yang telah membudaya menarik untuk dikaji dan dikonteksualisasikan dengan setting sosial politik kita hari ini. 

Terlebih pernyataan Wapres pertama RI disampaikan berkaitan dengan kapasitas beliau sebagai penasihat Komisi Empat—semacam KPK, kalau kita mengenalnya hari ini—sebuah wadah bentukan Presiden Soeharto yang dirancang secara khusus untuk mengusut perkara korupsi birokrasi. 

Pernyataan bapak bangsa tersebut sejatinya bukan bermaksud melegitimasi korupsi sebagai kebudayaan asli bangsa Indonesia, melainkan sebuah ungkapan sarkasme, keprihatinan mendalam, sekaligus kritik pedas Bung Hatta melihat betapa masif, sistematis, dan normalnya praktik rasuah dilakukan oleh para pejabat negara pada masa itu. 

Pernyataan sang proklamator itu justru disampaikan pada tahun 1974 di saat kekecewaannya memuncak akibat skandal korupsi dahsyat di tubuh Pertamina yang melibatkan direktur utamanya saat itu, Ibnu Sutowo. 

Menyaksikan penegakan hukum yang mandek dan komisi antikorupsi yang dibubarkan secara kontroversial oleh presiden, Bung Hatta dengan geram melontarkan kritik keras bahwa korupsi di Indonesia telah menjadi "budaya kita". 

Ketika Bung Hatta menggunakan kata "budaya", beliau merujuk pada situasi di mana korupsi tidak lagi dianggap sebagai anomali. 

Melainkan sesuatu yang lumrah, biasa dilakukan sehari-hari, dan mengakar di berbagai lapisan birokrasi. 

Korupsi telah bertransformasi dari kejahatan sembunyi-sembunyi menjadi kebiasaan sistemik yang diwajarkan masyarakat (misalnya, munculnya istilah uang pelicin, uang semir, atau pungli). 

Penegasan dari pendiri republik itu terasa relevan dengan isu yang berkembang belakangan—terkait wacana penyempurnaan atau perubahan definisi unsur kerugian negara dalam tindak pidana korupsi. 

Gagasan yang diusulkan oleh Kepala Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan itu kini terus menuai polemik tajam masyarakat, dan terus dilakukan pendalaman khususnya dari kelompok koalisi masyarakat sipil. 

Pokok usulan itu tampak menarik karena dikemas dalam doktrin Business Judgment Rule (BJR), yakni memberikan kepastian hukum bagi pejabat publik agar tidak dibayangi kekhawatiran berlebihan akan ancaman kriminalisasi atas kebijakan administratif. 

Persoalannya, jika unsur kerugian negara dipangkas atau dikaburkan, Indonesia seolah-olah telah bersih dari praktik-praktik rasuah. 

Padahal yang terjadi justru sebaliknya, sama persis seperti ramalan Bung Hatta di atas. 

Korupsi telah menjadi penyakit struktural yang akut dan susah diurai—bukan karena ketiadaan regulasi teknis, melainkan akibat buruknya tata kelola birokrasi, tingginya intervensi kekuasaan, dan kian masifnya banalitas politik. 

Meminjam istilah Bung Hatta, praktik korupsi di Indonesia sedikit banyak dipengaruhi oleh tata kelola buruk di masa lampau, termasuk perilaku korup para pejabat era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan sistem feodal kolonial. 

Para elit politik pascakemerdekaan justru meneruskan mentalitas buruk tersebut ketimbang membangun mentalitas baru yang merdeka dan bersih. 

Pernyataan "korupsi budaya kita" yang dilempar Bung Hatta tidak ubahnya tamparan keras agar bangsa Indonesia, khususnya para pemimpin, merasa malu. 

Bung Hatta sejatinya ingin memutus rantai fatalisme moral—sebuah kondisi di mana orang-orang berkuasa menyerah pada keadaan dan ikut arus melakukan korupsi dengan dalih "karena semua orang juga melakukannya". 

Dalam konteks itulah, manjadi wajar jika publik membaca manuver otak-otak definisi korupsi yang diusulkan oleh peringgi DEN itu tidak ubahnya sebuah upaya sistemik yang berpotensi melonggarkan ruang praktik korupsi justru di level hulu. 

Realitas Empiris Korupsi Pejabat

Kecurigaan publik itu bersanding dengan kondisi objektif—di mana data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan, sepanjang tahun 2026 tidak kurang dari 13 Kepala Daerah (Walikota dan Bupati) terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) terkait tindak pidana korupsi, pemerasan, serta gratifikasi. 

Secara yuridis, KPK hanya memiliki waktu 1 × 24 jam untuk menentukan status hukum pihak yang diamankan. 

Namun, bukti lapangan dalam OTT selalu memperlihatkan betapa transaksionalnya kekuasaan di tingkat lokal saat ini. 

Deretan kasus sepanjang 2026 memperlihatkan anatomi tersebut: Pada bulan Maret 2026, Walikota Madiun Maidi ditangkap atas dugaan pemerasan izin usaha dan dana CSR, bersamaan dengan Bupati Pati Sudewo terkait suap pengisian jabatan dan proyek. 

Begitu juga dengan Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq, yang tersandung kasus rasuah pengadaan barang/jasa dan outsourcing. 

Sementara Bupati Rejang Lebong Muhammad Fikri Thobari terkait suap izin proyek serta Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman terjaring atas dugaan pungli berkedok dana THR. 

Berlanjut pada bulan April–Juni, Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo ditangkap pada April, disusul Bupati Muara Enim Edison dan Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby pada Juni. 

OTT KPK berlanjut pada Juli–September 2026. Dalam OTT bulan Juli, Bupati Langkat Syah Afandin, Bupati Sukoharjo Etik Suryani, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini, dan Bupati Pemalang Anom Widiyantoro terjaring bersama sejumlah barang bukti. 

Terbaru, Bupati Bolaang Mongondow Utara, Sirajudin Lasena, ditangkap atas dugaan suap proyek jalan Dinas PUPR (Kompas, 23/9/2026). 

Maraknya perilaku koruptif di lingkar pejabat publik ini berdampak langsung pada tergerusnya kualitas demokrasi kita. 

The Economist Intelligence Unit (EIU, 2024) mengategorikan Indonesia secara konsisten sebagai flawed democracy (demokrasi cacat). 

Setelah sempat mencatat skor 6,95 pada awal 2014, indeks demokrasi Indonesia berfluktuasi dengan kecenderungan menurun pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo: 6,30 (2020), 6,53 (2023), hingga merosot ke angka 6,44 (peringkat ke-59 dunia) pada 2024. 

Korupsi Pejabat sebagai Regresi Demokrasi

Dalam diskursus ilmu politik mutakhir, fakta maraknya korupsi yang bertali-temali dengan penataan regulasi yang "ramah elit" merupakan manifestasi nyata dari democratic regression atau democratic backsliding (Bermeo, 2016). 

Pemerintahan Prabowo-Gibran dalam hal ini mewarisi beban kemunduran demokratis yang akut dari rezim sebelumnya. 

Regresi demokrasi hari ini tidak lagi ditandai oleh peristiwa dramatis seperti kudeta militer berdarah atau pembubaran parlemen secara terbuka. 

Kemunduran ini berjalan secara halus, perlahan, dan acap kali berkedok legalitas formal—suatu fenomena yang disebut oleh Ozan Varol (2014) sebagai stealth authoritarianism atau dengan istilah autocratic legalism (Scheppele 2018). 

Anatomi regresi demokrasi dalam konteks Indonesia tergambar dari lima karakteristik berikut: 

Pertama, telah terjadi apa yang saya sebut sebagai erosi bertahap yang bersifat kumulatif pada institusi-institusi demokrasi—sehingga tidak langsung disadari sebagai ancaman nyata oleh publik. 

Kedua, adanya gejala autocratic legalism. Instrumen hukum dan revisi undang-undang formal digunakan secara sadar untuk melayani kepentingan kelompok elit. 

Wacana penyempurnaan unsur kerugian negara yang saya bahas berada dalam rumpun ini. 

Ketiga, adanya pemusatan kekuasaan di level eksekutif (executive aggrandizement). 

Dalam hal ini, adanya pembengkakan wewenang eksekutif, secara sistematis mengikis mekanisme fungsi pengawasan dan kontrol (checks and balances). 

Keempat, terjadi pelemahan kelembagaan pada lembaga-lembaga independen. 

Dalam konteks ini, kita bisa melihat, adanya intervensi terselubung terhadap lembaga penegak hukum, peradilan, hingga penyelenggara pemilu. 

Kelima, gejala penyempitan ruang sipil (dwindling civic space). 

Adanya tekanan pada kebebasan pers, kriminalisasi atas kritik, dan rekayasa regulasi politik yang meminggirkan oposisi adalah cerminan dari situasi itu. 

Teoretikus politik Jeffrey Winters (2011) serta Robison & Hadiz (2004) menegaskan, fenomena di atas tidak lain adalah muara dari praktik oligarchic democracy. 

Dalam demokrasi oligarkis, prosedur-prosedur demokratis—seperti pemilu dan pembentukan UU—hanya dijadikan instrumen formalis yang direkayasa oleh segelintir elit kaya untuk mempertahankan akumulasi kekayaan dan konsentrasi kekuasaan. 

Dampak dari keadaan itu, masyarakat sipil kian hari, kian kehilangan daya tawar politik di luar siklus lima tahunan (tahun politik). 

Rakyat dirangkul hangat saat bilik suara dibuka dalam Pilpres, Pileg, maupun Pilkada, tetapi segera disisihkan oleh kalkulasi pragmatis begitu kekuasaan telah terbagi. 

Rakyat dipaksa menanggung dampak paling buruk dari bobroknya pelayanan publik, maraknya money politics, hingga pembentukan kebijakan yang jauh dari kepentingan umum. 

Ketika demokrasi direduksi sebatas pemenuhan syarat administratif per lima tahun, etika bernegara menjadi menguap dan yang muncul ke permukaan hanyalah bentuk-bentuk dari banalitas kekuasaan (banality of power). 

Menguji Daya Tahan Demokrasi

Kendati didera kemunduran kualitas yang sistematis, Indonesia sejatinya belum sepenuhnya kehilangan harapan. 

Pemerhati politik mencatat bahwa demokrasi Indonesia masih memiliki daya tahan (democratic resilience) yang patut diperhitungkan (Aspinall & Mietzner, 2019). 

Daya tahan ini tidak lahir dari kebaikan elit, melainkan dari tetap hidupnya kanal-kanal kritik di ruang publik, ketahanan media massa, serta kemampuan gerakan masyarakat sipil yang masih memiliki kapasitas konsolidatif dalam membendung kebijakan yang tidak pro rakyat dan mencederai konstitusi. 

Hemat saya, ujian terbesar pemerintahan saat ini adalah membuktikan komitmen politiknya: apakah akan melanjutkan kompromi oligarkis dengan mempreteli instrumen pemberantasan korupsi, ataukah berani melakukan pemulihan demokrasi (democratic recovery). 

Dan pemulihan kepercayaan publik hanya bisa dicapai jika hukum tidak dijadikan tameng bagi elit, dan kedaulatan rakyat dikembalikan sebagai tujuan utama bernegara. 

Penulis adalah Pegiat Politik, Tenaga Ahli DPR RI

Sumber: kompas.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *