Berita Terbaru

Hari Bhayangkara ke-80, Gubernur Andra Soni Apresiasi Sinergi Pemprov Banten dan Polda Banten

By On Juli 01, 2026

Gubernur Banten, Andra Soni saat mengikuti rangkaian Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Mapolda Banten, Jalan Syekh Nawawi Al Bantani, Banjarsari, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Rabu, 01 Juli 2026. 

SERANG, KabarXXI.Com - Gubernur Banten, Andra Soni mengucapkan selamat Hari Bhayangkara ke-80 Kepolisian Republik Indonesia. 

Untuk jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Banten, ia juga mengucapkan selamat atas penghargaan Samkaryanugraha Nugraha Sakanti. 

“Selamat Hari Bhayangkara ke-80. Semoga Polri, khususnya Polda Banten, terus bersinergi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten. Kami berterima kasih atas pengabdian selama ini. Alhamdulillah, koordinasi berjalan dengan baik,” ujar Andra Soni usai mengikuti rangkaian Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Banten Jalan Syekh Nawawi Al Bantani, Banjarsari, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Rabu, 01 Juli 2026. 

Menurut Andra Soni, pencapaian pembangunan yang dilakukan Pemprov Banten selama ini salah satunya adalah berkat bantuan dan dukungan Kepolisian Republik Indonesia. Sinergi yang telah dibangun, harus dijaga demi terwujudnya ketertiban dan keamanan masyarakat. 

“Selamat juga kepada Polda Banten, salah satu Polda yang mendapatkan penghargaan dari Bapak Presiden Prabowo bersama sembilan Polda lainnya,” ujarnya. 

Samkaryanugraha Nugraha Sakanti diberikan sebagai penghargaan kepada kesatuan di lingkungan kepolisian atas jasanya bagi kepentingan bangsa dan negara. Polda Banten menjadi kesatuan yang jasanya penting dalam mewujudkan kesatuan dan persatuan. 

Dalam sambutannya, Inspektur Upacara Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Banten, Brigjen Pol. Hendra Wirawan membacakan amanat Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Banten Irjen Pol. Hengki. 

Ia mengajak jajaran untuk terus meningkatkan kompetensi, memperkuat integritas, menguasai perkembangan teknologi, serta membangun budaya kerja yang cepat, adaptif, humanis, dan berorientasi pada pelayanan. 

“Jadilah polisi yang hadir sebelum masyarakat meminta, mampu menjadi solusi ketika masyarakat menghadapi persoalan, dan tetap tegas dalam menegakkan hukum dengan menjunjung tinggi keadilan dan hak asasi manusia,” katanya. 

Ia mengingatkan seluruh anggota agar senantiasa menjaga disiplin, menghindari segala bentuk pelanggaran, penyalahgunaan wewenang maupun perilaku yang dapat mencederai kehormatan institusi. Kehormatan Polri dibangun oleh tindakan setiap anggotanya di tengah masyarakat. 

“Mari kita jadikan Hari Bhayangkara ke-80 sebagai momentum memperkuat pengabdian, memperkokoh soliditas, meningkatkan kualitas pelayanan, dan mempererat sinergi dengan seluruh komponen bangsa,” tuturnya. (Welfendry)

Danramil Kragilan Berikan Ucapan HUT Bhayangkara ke-80, Sinergitas TNI-Polri Makin Solid

By On Juli 01, 2026

Danramil Kragilan, Kapten Inf Subhan memberikan ucapan selamat HUT Bhayangkara ke-80 kepada Kapolsek Kragilan, Kompol Dwi Hary Bagio Winarko, Rabu, 01 Juli 2026. 

SERANG, KabarXXI.ComSemarak Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80 terasa di Polsek Kragilan, Polres Serang, Polda Banten. 

Danramil Kragilan, Kapten Inf Subhan bersama Danramil Ciwandan Mayor Inf Indra bersilaturahmi dan memberikan ucapan selamat HUT Bhayangkara ke-80 kepada Kapolsek Kragilan, Kompol Dwi Hary Bagio Winarko, Rabu, 01 Juli 2026. 

Kegiatan berlangsung di Mako Polsek Kragilan dan dihadiri Panit Reskrim, Panit Opsnal Intelkam, Kasium, serta anggota Polsek Kragilan dan Koramil Kragilan. 

"Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Danramil Kragilan Kapten Subhan dan Danramil Ciwandan Mayor Indra atas kunjungan dan ucapan HUT Bhayangkara ke-80 ini. Ini bukti nyata sinergitas TNI-POLRI di wilayah Kragilan berjalan sangat baik," ujarnya. 

"Ke depan kami akan terus jalin komunikasi dan kerja sama, terutama dalam menjaga Kamtibmas, antisipasi balapan liar, genk motor, dan C3. TNI-POLRI solid, masyarakat Kragilan pasti aman dan nyaman." 

"Selamat HUT Bhayangkara ke-80 untuk seluruh keluarga besar Polsek Kragilan. Semoga Polri semakin presisi, dicintai masyarakat, dan sukses mengemban tugas. TNI dan Polri adalah saudara. Sinergitas kita jaga terus demi keutuhan NKRI dan keamanan wilayah Kragilan." kata Danramil Kragilan, Kapten Inf Subhan. 

Maksud dan tujuan kegiatan ini untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat sinergitas TNI-POLRI dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Sepanjang kegiatan situasi berjalan aman, lancar, dan kondusif. 

Di usia Polri yang ke-80 tahun, Polsek Kragilan berkomitmen terus meningkatkan pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat. (*/red)

Wakapolres Serang Pimpin Upacara Peringatan Hari Bhayangkara ke-80

By On Juli 01, 2026

Wakapolres Serang, Kompol A. Surya K memimpin upacara peringatan Hari Bhayangkara ke-80, di halaman Mapolres Serang, Rabu, 01 Juli 2026. 

SERANG, KabarXXI.Com - Wakapolres Serang, Kompol A. Surya K memimpin upacara peringatan Hari Bhayangkara ke-80, di halaman Mapolres Serang, Rabu, 01 Juli 2026. 

Upacara diikuti unsur Forkopimda Kabupaten Serang, Ketua FKUB, Ketua MUI Kecamatan Kragilan, pejabat utama, Kapolsek jajaran, personel Polres Serang, Pokdar Kamtibmas, dan Sabuk Kamtibmas. 

Dalam upacara tersebut, Kompol A. Surya K membacakan amanat Kapolda Banten. Ia menyampaikan bahwa Hari Bhayangkara bukan sekadar memperingati perjalanan panjang institusi Polri, tetapi menjadi momentum memperkuat pengabdian kepada masyarakat. 

“Hari Bhayangkara menjadi pengingat bahwa setiap langkah, setiap pengabdian, dan setiap keputusan yang kita ambil harus bermuara pada satu tujuan, yaitu memberikan rasa aman, keadilan, dan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” kata Wakapolres. 

Ia menegaskan, tema “80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat” harus diwujudkan dalam tindakan nyata oleh seluruh personel Polri melalui integritas, profesionalisme, kerja keras, dan ketulusan dalam melayani. 

“Kepercayaan masyarakat tidak dibangun melalui slogan, melainkan melalui integritas, profesionalisme, kerja keras, serta ketulusan dalam melayani,” ujarnya. 

Wakapolres juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel atas dedikasi dalam menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif, memberikan pelayanan kepada masyarakat, serta mendukung berbagai program pemerintah. 

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan tugas ke depan semakin kompleks sehingga seluruh personel harus terus meningkatkan kompetensi, integritas, dan kemampuan mengikuti perkembangan teknologi. 

“Jadilah polisi yang hadir sebelum masyarakat meminta, mampu menjadi solusi ketika masyarakat menghadapi persoalan, serta tetap tegas dalam menegakkan hukum dengan menjunjung tinggi keadilan dan hak asasi manusia,” pesannya. 

Menutup amanatnya, Wakapolres mengajak seluruh personel menjadikan Hari Bhayangkara ke-80 sebagai momentum memperkuat pengabdian, meningkatkan kualitas pelayanan, menjaga disiplin, serta mempererat sinergi dengan seluruh komponen bangsa demi mewujudkan Polri yang semakin dipercaya masyarakat. (*/red)

Tukang Las di Bireuen Ditangkap Polisi, Diduga Rakit Senjata Api Ilegal Kaliber 5,56 mm

By On Juli 01, 2026

Pihak Kepolisian memperlihat barang bukti senjata api rakitan yang disita di kediaman warga Bireuen. 

BIREUEN, KabarXXI.Com - Seorang tukang las berinisial SR (38), warga Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh, ditangkap aparat kepolisian setelah diduga merakit senjata api ilegal di rumahnya. 

Kasus tersebut terungkap setelah polisi menerima laporan masyarakat terkait suara letusan yang diduga berasal dari senjata api di salah satu desa di Kabupaten Bireuen. 

Menindaklanjuti laporan itu, petugas melakukan penyelidikan hingga mengarah kepada SR. 

Polisi kemudian mengamankan SR di sebuah warung kopi sebelum membawanya ke rumah untuk dilakukan penggeledahan. 

Dari lokasi tersebut, petugas menemukan tiga pucuk senjata api yang diduga telah dimodifikasi dari senapan angin menjadi senjata yang menggunakan peluru kaliber 5,56 milimeter (mm). 

Kasat Reskrim Polres Bireuen, AKP Dedy Miswar mengatakan, berdasarkan pengakuan tersangka, senjata tersebut dirakit sendiri di rumah. 

Kemampuan sebagai tukang las serta pengetahuan yang diperoleh dari menonton video dan bergaul dengan komunitas pemburu diduga menjadi bekal tersangka dalam memodifikasi senjata. 

"Yang bersangkutan sering melihat video-video sehingga muncul inovasi. Dia juga sering berkumpul dengan teman-teman berburu. Pengakuannya, senjata itu hanya digunakan untuk berburu rusa," kata Dedy, Senin, 29 Juni 2026. 

Menurut Dedy, tersangka memiliki kemampuan teknis untuk mengganti laras senapan sehingga dapat menggunakan amunisi kaliber 5,56 mm. 

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Aceh, Kombes Pol Andre Librian menyebut, senjata api rakitan tersebut sangat berbahaya karena menggunakan peluru kaliber 5,56 mm yang memiliki daya mematikan. 

"Senjata api rakitan yang menggunakan peluru kaliber 5,56 mm ini sangat membahayakan bahkan bisa mematikan," ujarnya. 

Hingga kini, penyidik masih mendalami asal-usul amunisi yang digunakan serta kemungkinan adanya senjata api lain atau keterlibatan pihak lain. 

Namun, berdasarkan hasil penyelidikan sementara, polisi menduga tersangka merakit senjata tersebut seorang diri. 

Atas perbuatannya, SR dijerat dengan pasal tentang kepemilikan dan pembuatan senjata api ilegal dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. 

Berita ini telah disusun dengan struktur jurnalistik yang memuat unsur 5W+1H, menggunakan bahasa yang lugas, serta menghindari penyajian informasi yang belum dipastikan sebagai fakta. (Joniful Bahri)

Warga Bayah Desak Normalisasi Pendangkalan Sungai Cidikit, Khawatir Sawah dan Pemukiman Tenggelam

By On Juli 01, 2026

Sejumlah warga Desa Bayah Barat saat menyisir bantaran sungai Cidikit, Rabu, 01 Juli 2026. 

LEBAK, KabarXXI.Com - Sejumlah warga Kampung Bayah Satu, Desa Bayah Barat, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten, turun langsung ke bantaran Sungai Cidikit, Rabu, 01 Juli 2026. 

Aksi ini dilakukan untuk menyuarakan keresahan mereka terkait kondisi sungai yang keruh dan mengalami pendangkalan parah. 

Aksi yang dipimpin oleh Ketua RW setempat ini merupakan bentuk protes dari para pemilik sawah di sepanjang area bantaran sungai. 

Warga sengaja merekam kondisi lapangan melalui video dengan harapan mendapatkan respons cepat dari pihak perusahaan dan instansi terkait. 

Dalam rekaman tersebut, warga mendesak agar pihak perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut bertanggung jawab untuk mengembalikan fungsi sungai seperti semula, baik dari segi kebersihan air maupun kedalaman sungai. 

"Kami selaku warga terdampak meminta kepada pihak perusahaan agar Sungai Cidikit kembali jernih dan normal," ujar Ketua RW 05 sekaligus Tokoh Masyarakat Kampung Bayah Satu, Empud Saripudin, di lokasi kegiatan, Rabu, 01 Juli 2026. 

Warga menuntut adanya pengerukan atau normalisasi segera terhadap material batu kerikil yang menyumbat aliran sungai. Jika dibiarkan, tumpukan material tersebut akan menyumbat total arus air. 

"Pendangkalan Sungai Cidikit ini harus segera dikeruk. Jika tidak, saat banjir datang, air sungai akan meluap dan meratakan pemukiman serta persawahan. Pemukiman bisa habis, sawah juga habis," tegas Empud. 

Warga berharap pihak manajemen perusahaan dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak segera turun tangan melakukan tindakan nyata sebelum bencana banjir melanda kawasan tersebut. (Tim/Red)

Me Gacor CBR FC Raih Juara Turnamen Sepak Bola Jaro Cup Sawarna 2026

By On Juni 30, 2026

Me Gacor CBR FC Raih Juara Turnamen Sepak Bola Jaro Cup Sawarna 2026. 

LEBAK, KabarXXI.Com - Tim kesebelasan Me Gacor CBR FC sukses meraih juara pertama dalam laga Grand Final turnamen sepak bola Jaro Cup Desa Sawarna. 

Pertandingan sengit tersebut berlangsung di lapangan sepak bola Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, pada Senin (29/06/2026) kemarin. 

Acara tahunan ini berjalan sukses, aman, dan meriah. 

Pada laga puncak tersebut, Me Gacor CBR FC berhadapan dengan tim kuat MGS Marga Saluyu. 

Pertandingan berlangsung ketat hingga waktu normal berakhir dengan skor imbang 1-1. 

Laga kemudian dilanjutkan melalui drama adu penalti, yang akhirnya dimenangkan oleh Me Gacor CBR FC dengan skor tipis 5-4. 

Pemilik klub Me Gacor CBR FC, Dedi Vistasio—yang akrab disapa Om Joy—bersama sang istri, Bunda Rose, menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap penyelenggaraan turnamen Jaro Cup Sawarna ini. 

"Tentunya ini menjadi kebanggaan bagi pribadi saya dan istri. Dalam pertandingan di grand final turnamen Event Jaro Cup Sawarna kemarin, tim kami bisa meraih juara," ujar Om Joy saat diwawancarai pada Selasa (30/06/2026). 

Om Joy menambahkan bahwa turnamen ini merupakan ajang yang sangat bergengsi. Kedua tim bahkan mendatangkan para pemain bintang yang sudah malang-melintang di dunia turnamen antarkampung (tarkam). 

"Ini ajang bergengsi bagi Me Gacor CBR FC yang mampu meredam permainan MGS Marga Saluyu. Kemenangan ini tentunya menjadi kado yang sangat luar biasa bagi saya untuk bisa memberikan piala juara satu ini kepada istri tercinta," pungkasnya. (Cup/Uday)

Poliklinik Spesialis Gizi RSUD Berkah Hadir Bantu Masyarakat Terapkan Pola Makan Sehat

By On Juni 30, 2026

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Berkah, Kabupaten Pandeglang, Banten. 

PANDEGLANG, KabarXXI.Com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Berkah, Kabupaten Pandeglang, Banten, terus meningkatkan layanan kesehatan melalui Poliklinik Spesialis Gizi Klinik yang akan memberikan konsultasi terkait pola makan sehat, pengaturan gizi, hingga program penurunan maupun peningkatan berat badan sesuai kondisi masing-masing pasien. 

Layanan tersebut ditangani oleh dr. Primalia Rosyidah H., Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi. 

dr. Primalia di ruang kerjanya baru-baru ini kepada awak media menjelaskan bahwa melalui layanan tersebut, masyarakat dapat berkonsultasi mengenai berbagai permasalahan gizi, seperti obesitas, diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, gizi baik pada ibu hamil, anak, maupun kebutuhan nutrisi pada penyakit tertentu. 

"Pasien akan mendapatkan edukasi serta pengaturan pola makan yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan gaya hidup masing-masing," ucapnya. 

Lebih jauh, Ia menjelaskan, pihak RSUD Berkah juga mengajak masyarakat untuk tidak ragu berkonsultasi sejak dini agar dapat mencegah berbagai penyakit yang berkaitan dengan pola makan dan status gizi. 

"Layanan Poliklinik Spesialis Gizi menjadi salah satu upaya rumah sakit dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang sebagai bagian dari gaya hidup sehat," ujarnya. 

"Berdasarkan informasi layanan, konsultasi bersama dokter spesialis gizi tersedia sesuai jadwal pelayanan rawat jalan yang ditetapkan RSUD Berkah. Masyarakat dapat memperoleh informasi lebih lanjut mengenai jadwal dan pendaftaran melalui situs resmi RSUD Berkah Kabupaten Pandeglang," tutupnya. (Seps)

Pria yang Rekam Wanita Mandi di Masjid Mojokerto Divonis Tiga Tahun Penjara

By On Juni 30, 2026

Terdakwa perekam wanita di toilet Masjid. 

MOJOKERTO, KabarXXI.Com - M Misbakhuddin (44) terbukti bersalah karena merekam dua wanita mandi dan ganti baju di kamar mandi Masjid At Taubah, Mojokerto, Jawa Timur (Jatim). 

Akibat perbuatannya, terdakwa divonis tiga tahun penjara. 

Pembacaan vonis terhadap Misbakhuddin digelar terbuka di ruangan Chandra, Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, sekitar pukul 14.00 WIB. 

Jalannya sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Silvya Terry, serta hakim anggota Yayu Mulyana dan Nurlely. 

Majelis Hakim dalam vonisnya menyatakan Misbakhuddin terbukti melakukan tindak pidana Pasal 35 junto Pasal 9 dan Pasal 37 junto Pasal 11 UU RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, yaitu merekam orang sebagai objek bermuatan pornografi dan melibatkan anak sebagai objek pornografi. 

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama tiga tahun," kata Terry dalam vonisnya, Senin, 29 Juni 2026. 

Merespons vonis tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mojokerto, Satria Faza Andromeda menyatakan pikir-pikir. 

Pasalnya, putusan Majelis Hakim lebih ringan dari tuntutan yang ia ajukan pada Senin, 08 Juni 2026. 

Ketika itu, JPU meminta Majelis Hakim menjatuhkan pidana empat tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider penjara 140 hari kepada Misbakhuddin. 

Sementara itu, penasihat hukum terdakwa, Ramadhani juga keberatan dengan vonis Majelis Hakim. 

Karena, kata dia, Misbakhuddin kooperatif dan mengakui perbuatannya selama persidangan. Kliennya pun sudah meminta maaf kepada korban di depan Majelis Hakim. 

"Terdakwa tadi masih pikir-pikir karena tiga tahun terasa berat. Tidak ada yang memberatkan terdakwa. Karena pada pemeriksaan saksi, sudah ada permintaan maaf kepada korban. Sesuai fakta persidangan, video untuk konsumsi pribadi," pungkasnya. 

Diketahui sebelumnya, perbuatan Misbakhuddin terbongkar pada 9 Januari 2026. Karena korban, perempuan berinisial PJ menemukan ponsel pelaku di lubang dekat lampu kamar mandi Masjid At Taubah, Dusun/Desa Ngareskidul, Gedeg, Mojokerto. 

Sore itu sekitar pukul 16.00 WIB, PJ menemukan layar ponsel tersebut menyala dan menghadap dirinya. Bahkan, kamera depan ponsel itu dalam kondisi merekam video. Sehingga ia mengambil ponsel tersebut dan mengurungkan niatnya mandi. 

PJ pun memeriksa isi ponsel tak bertuan itu. Ia menemukan tiga video di dalamnya. 

Pertama, video PJ saat mandi di kamar mandi Masjid At Taubah pada malam hari. 

Kedua, video gadis berusia 13 tahun saat ganti baju di kamar mandi masjid. 

Ketiga, video PJ saat akan mandi di kamar mandi masjid. 

Dari rekaman video ketiga inilah ia menemukan pemilik ponsel. Sebab wajah pelaku, Misbakhuddin terekam di awal video. Selanjutnya, PJ melapor ke Polres Mojokerto Kota. 

Setelah menerima laporan korban, hari itu juga polisi menangkap Misbakhuddin. 

Warga Desa Ngareskidul ini mengaku sengaja merekam aktivitas PJ di kamar mandi karena tertarik dengan korban. 

Ia menyalakan rekaman video, lalu meletakkan ponselnya di lubang dekat lampu kamar mandi Masjid At Taubah. 

Uniknya lagi, sambil menunggu PJ selesai mandi, Misbakhuddin masuk ke masjid untuk salat dan zikir. Setelah itu, ia kembali ke kamar mandi untuk mengambil ponsel. Ternyata ponsel tersebut sudah raib karena lebih dulu ditemukan PJ. (*/red)

Musa, Pembunuh Wanita Open BO Michat di Malang Divonis 18 Tahun Penjara

By On Juni 30, 2026

Terdakwa pembunuhan teman kencan di sebuah rumah kontrakan di Jalan Ikan Gurami, Kelurahan Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jatim (kanan) saat akan menjelani sidang tuntutan di PN Malang Kelas IA. 

MALANG, KabarXXI.ComPengadilan Negeri (PN) Malang menjatuhkan hukuman 18 tahun penjara kepada Musa Krisdianto Intite Warorowai, terdakwa pembunuhan berencana terhadap Siti Muawana, perempuan yang dikenalnya melalui aplikasi MiChat. 

Vonis tersebut dibacakan Majelis Hakim dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Malang Kelas IA, Senin, 29 Juni 2026. 

Kepala Seksi (Kasi) Intelijen Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang, Agung Tri Radityo mengatakan, putusan Hakim sesuai dengan tuntutan yang sebelumnya diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU). 

"(Musa Krisdianto Intite Warorowai divonis 18 tahun penjara)," ujar Agung. 

Menurut Agung, Majelis Hakim menyatakan terdakwa terbukti melakukan pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam Pasal 459 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). 

"Berdasarkan fakta-fakta persidangan, perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur pembunuhan dengan rencana terlebih dahulu, sebagaimana diatur dalam Pasal 459 KUHP baru," ujarnya. 

Kuasa hukum terdakwa, Guntur Putra Abdi Wijaya menilai, perkara tersebut seharusnya tidak dikualifikasikan sebagai pembunuhan berencana. 

"Dalam pembelaan kami sampaikan, perbuatan terdakwa mengarah ke Pasal 351 KUHP, bukan pembunuhan berencana," ujarnya. 

Meski demikian, kata Guntur, pihaknya masih akan berkoordinasi dengan keluarga terdakwa untuk menentukan langkah hukum selanjutnya, termasuk kemungkinan mengajukan banding. 

"Kalau keluarga minta banding, tentu akan kami kawal. Harapan kami memang banding. Tapi bagi saya pribadi, putusan ini sudah lebih baik daripada tuntutan pidana mati atau penjara seumur hidup," ujarnya. 

Diketahui, kasus ini berawal ketika terdakwa berkenalan dengan korban melalui aplikasi MiChat pada akhir Desember 2025. 

Keduanya kemudian bertemu di rumah kontrakan terdakwa di Kota Malang, Jawa Timur (Jatim). 

Menurut dakwaan, korban meminta pembayaran sesuai kesepakatan. Namun terdakwa mengaku tidak memiliki uang tunai sehingga menawarkan telepon genggam sebagai pengganti dan berjanji melunasi kemudian. 

Korban menolak tawaran tersebut dan tetap meminta pembayaran secara tunai. Situasi kemudian memicu pertengkaran yang berujung pada penusukan terhadap korban. 

Berdasarkan hasil Visum et Repertum (VER) RSUD Saiful Anwar Malang, korban meninggal dunia akibat luka yang menyebabkan kegagalan sistem peredaran darah. (*/red)

Istana Sebut Latihan Militer Tetap Berjalan Sambil Evaluasi Lima SPPI Meninggal

By On Juni 30, 2026

Sejumlah peserta program SPPI saat mengikuti Latsarmil calon manajer KDMP, di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta, Kamis, 25 Juni 2026. 

JAKARTA, KabarXXI.Com - Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg), Juri Ardiantoro menyampaikan, proses pelatihan bagi para calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) dan Kampung Nelayan Merah Putih, tetap berjalan. 

Meski begitu, proses pelatihan dasar militer (Latsarmil) akan sambil dievaluasi dengan memerhatikan setiap masukan dari masyarakat. 

"Secara umum tentu karena proses ini sudah berlangsung dan memang tenaga manajer untuk Koperasi Merah Putih juga harus segera bekerja sehingga pelatihan tetap jalan terus. Tetapi masukan dari berbagai pihak tentu diperhatikan," kata Juri di Kompleks Istana, Jakarta, Senin, 29 Juni 2026. 

Juri turut menyampaikan dukacita atas meninggalnya lima calon manajer Kopdes dan Kampung Nelayan yang meninggal saat mengikuti proses pelatihan. 

Dia memastikan, pemerintah tentu akan mengambil langkah-langkah perbaikan di dalam proses pendidikan dan pelatihan para manajer Koperasi Merah Putih. 

"Dan tentu saja masukan dari masyarakat, dari berbagai pihak untuk peristiwa itu tentu didengar oleh pemerintah, diperhatikan, dan itu menjadi bahan untuk mengevaluasi supaya proses pelatihan ini menjadi lebih baik," ujar Juri. 

Lebih lanjut, ia mengatakan pelatihan terhadap para calon manajer Kopdes itu bukan hanya tentang keterampilan manajerial, tetapi juga memuat pembekalan agar mereka menjadi manajer yang memahami dan memiliki komitmen kuat untuk kebangsaan. 

"Jadi latihan-latihan yang sifatnya pembekalan pada mental, ideologi itu yang juga diberikan kepada mereka. Jadi semuanya tetap berjalan, tetapi diperbaiki, dievaluasi supaya lebih baik," imbuhnya. 

Menurutnya, evaluasi yang dilakukan ke depannya demi perbaikan agar tidak lagi ada korban meninggal dunia. 

"Tapi intinya adalah memitigasi supaya tidak terjadi masalah seperti yang sudah terjadi meninggalnya lima orang. Jadi, insyaallah ke depan sudah diantisipasi supaya tidak terjadi korban," katanya. 

Diketahui, hingga Sabtu, 27 Juni 2026, sebanyak lima calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Mereka yang telah berpulang adalah Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari. 

"Menyampaikan dukacita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya lima peserta program SPPI KDKMP KNMP 2026 yang sedang mengikuti pelatihan bela negara dan manajerial," kata Kepala BPSDM Pertahanan Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia saat Jumpa Pers, Sabtu. 

Kemenhan kini menggandeng Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memperketat pengawasan kesehatan peserta latihan. 

Langkah itu dilakukan setelah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menginstruksikan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan latihan bela negara dan manajerial, terutama pada aspek kesehatan peserta. 

Evaluasi tersebut mencakup penguatan pengawasan medis, pemetaan kondisi kesehatan peserta, penyesuaian intensitas kegiatan, perbaikan sistem rujukan, serta mekanisme deteksi dini bagi peserta yang memiliki faktor risiko. (*/red)

PKB Akan Sanksi Kadernya Jika Terbukti Terlibat dalam Dugaan Intimidasi Dokter di NTT

By On Juni 30, 2026

Kemenkes RI melalui akun Instagram menyampaikan ucapan duka cita mendalam atas meninggalnya dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr Icha. 

JAKARTA, KabarXXI.Com - Wakil Ketua Komisi IX DPR yang juga Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa, Nihayatul Wafiroh atau Ninik mengecam keras dugaan intimidasi yang dilakukan dua anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), terhadap dr Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr Icha saat bertugas di IGD RS Leona, Kefamenanu. 

Ninik mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan sanksi disiplin jika kadernya terlibat intimidasi. 

"Kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan tenaga kesehatan dapat bekerja dengan aman, tanpa tekanan maupun intimidasi. Siapa pun yang terbukti menyalahgunakan jabatan atau kekuasaan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku," kata Ninik kepada wartawan, Senin, 29 Juni 2026. 

Ninik menegaskan, tindakan intimidatif terhadap tenaga kesehatan tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun. Terlebih, kata dia, salah satu pihak yang diduga terlibat, Norbertus Tubani, merupakan kader PKB. 

"Kami sangat menyayangkan tindakan biadab seperti itu, siapa pun pelakunya. Tidak ada ruang bagi tindakan intimidasi terhadap tenaga kesehatan yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan," ujarnya. 

Menurutnya, apabila dugaan tersebut terbukti, tindakan Norbertus Tubani tidak hanya mencederai etika sebagai pejabat publik, tetapi juga melanggar disiplin partai. 

Untuk itu, kata Ninik, pihaknya akan segera memanggil Nobertus Tubani untuk dimintai keterangan. 

"Kami akan segera memanggil yang bersangkutan untuk tabayun. Kami pastikan yang bersangkutan akan mendapat sanksi disiplin dari partai jika memang terbukti terlibat," ujarnya. 

Diketahui, insiden tersebut bermula ketika dua anggota DPRD TTU, Norbertus Tubani dari PKB dan Therensius Lazakar dari Partai Golkar, mendatangi IGD RS Leona terkait penanganan seorang pasien anak korban gigitan ular hijau yang merupakan keponakan Therensius. 

Pasien tersebut diketahui merupakan rujukan dari RSUD Kefamenanu. 

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi di lokasi, kedua anggota DPRD itu diduga datang dalam kondisi berbau alkohol dan berbicara dengan nada tinggi kepada dr Icha yang saat itu sedang menjalankan tugas medis. 

Peristiwa tersebut diduga meninggalkan trauma mendalam bagi dr Icha. Ia kemudian menjalani perawatan intensif sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Jumat, 26 Juni 2026. 

dr Icha ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya, Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, NTT, pada Jumat, 26 Juni 2026, sekitar pukul 18.00 WITA, setelah sempat menjalani perawatan medis karena tekanan psikologis usai diduga diintimidasi anggota DPRD TTU saat menangani pasien anak korban gigitan ular di RS Leona pada Sabtu, 13 Juni 2026. (*/red)

Komnas Perempuan Minta Maaf Usai Sebut Kasus YTR Tak Termasuk Penyiksaan Versi PBB

By On Juni 30, 2026

Taufik Hidayat, tersangka kasus penganiayaan sadis saat ditangkap. 

JAKARTA, KabarXXI.Com - Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyampaikan permohonan maaf terkait pernyataannya dalam Konferensi Pers Hari Anti Penyiksaan Internasional pada 26 Juni 2026 yang membahas kasus YTR di Bandung dalam kerangka Konvensi Menentang Penyiksaan (Convention Against Torture/CAT). 

Komisioner Komnas Perempuan, Ratna Batara Munti mengatakan, fokus lembaganya adalah mengawal perlindungan, pemulihan, dan pemenuhan hak-hak korban serta mendukung proses penegakan hukum yang memberikan keadilan bagi YTR. 

"Komnas Perempuan memahami besarnya perhatian publik terhadap kasus YTR di Bandung. Untuk itu, Komnas Perempuan menyampaikan permohonan maaf yang tulus terkait pernyataan kami pada Konferensi Pers Hari Anti Penyiksaan Internasional, 26 Juni 2026, yang membahas kasus tersebut dalam kerangka Konvensi Menentang Penyiksaan (Convention Against Torture/CAT)," ujar Ratna Senin, 29 Juni 2026. 

Komnas Perempuan menyatakan, kasus yang dialami YTR merupakan kekerasan berbasis gender terhadap perempuan berlapis yang sangat ekstrem, sadis, dan kejam. 

Menurutnya, tindakan yang dialami korban juga memenuhi unsur penganiayaan berat dalam hukum pidana. 

"Penjelasan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengurangi beratnya kekerasan maupun penderitaan yang dialami korban," ujar Ratna. 

Komnas Perempuan menyebut, kasus tersebut telah menyebabkan penderitaan luar biasa dan disabilitas permanen pada korban. 

Selain mengalami dampak fisik yang berat, korban juga menghadapi penderitaan psikologis serta kerugian ekonomi yang mendalam. 

Berdasarkan pemantauan langsung di lapangan, Komnas Perempuan menemukan sejumlah fakta penting, di antaranya korban diduga mengalami pola kekerasan berulang selama masa penyekapan, mulai dari pemukulan menggunakan besi dan helm, luka akibat benda tajam, hingga tubuh yang disulut rokok. 

Akibat penganiayaan oleh Taufik Hidayat, korban mengalami kebutaan pada kedua mata, kesulitan berjalan, serta infeksi berat pada jaringan terbuka di area wajah dan kepala. 

Komnas Perempuan juga mencatat adanya dugaan upaya isolasi sosial terhadap korban. 

Pelaku disebut memutus akses komunikasi korban dengan keluarga dan memaksa korban menyampaikan informasi yang tidak sesuai kondisi sebenarnya kepada keluarga maupun tenaga medis. 

Selain itu, Komnas Perempuan mengapresiasi respons cepat tim medis Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung yang mencurigai adanya tindak kekerasan setelah menemukan pola luka tidak wajar pada korban. 

Temuan tersebut kemudian dikoordinasikan dengan pihak terkait untuk proses penyelamatan dan penanganan hukum. 

Komnas Perempuan juga menemukan adanya kendala pembiayaan layanan kesehatan akibat regulasi yang tidak menanggung biaya pengobatan korban tindak pidana melalui skema BPJS Kesehatan. 

Sementara untuk penanganan YTR, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) disebut mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1,5 miliar serta bantuan jaminan hidup bagi keluarga korban. 

Komnas Perempuan turut mengungkap adanya informasi dari korban yang mengindikasikan dugaan kekerasan seksual selama masa penyekapan. Dugaan tersebut saat ini masih didalami oleh Polda Jabar. 

Komnas Perempuan mendesak seluruh pemangku kepentingan memastikan pemenuhan hak korban secara menyeluruh, mulai dari keadilan hukum, pemulihan medis dan psikologis jangka panjang, pemulihan ekonomi dan sosial, hingga perlindungan privasi selama proses hukum berlangsung. 

Selain itu, lembaga tersebut meminta media massa menjaga privasi dan martabat korban dalam setiap pemberitaan kasus tersebut. 

“Komnas Perempuan juga mendukung aparat penegak hukum untuk mendalami seluruh dugaan tindak pidana yang terjadi, termasuk dugaan kekerasan seksual, serta menerapkan tuntutan yang mencerminkan beratnya kekerasan yang dialami korban,” pungkasnya. (*/red)

Bareskrim Gagalkan Penyelundupan 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

By On Juni 30, 2026

Dittipidnarkoba Bareskrim Polri berhasil mengungkap jaringan peredaran narkoba internasional Thailand-Indonesia di wilayah Lhokseumawe, Aceh. 

JAKARTA, KabarXXI.ComDirektorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri berhasil mengungkap jaringan peredaran narkoba internasional Thailand-Indonesia di wilayah Lhokseumawe, Aceh. 

Dalam operasi tersebut, petugas mengamankan 325 kilogram sabu. 

"Tim gabungan Subdit 4, Tim 1 Satgas NIC Dittipidnarkoba, Bea Cukai Kanwil Aceh, dan Bea Cukai Lhokseumawe berhasil mengungkap peredaran gelap narkotika jenis sabu sebanyak 325 bungkus (325 kilogram) dalam kemasan teh China jaringan Thailand-Aceh-Indonesia," kata Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Eko Hadi, dalam keterangannya, Minggu, 28 Juni 2026. 

Dalam pengungkapan itu, polisi menangkap dua tersangka, yakni Jufri (29) dan Zulfahmi (29). Keduanya ditangkap pada Selasa, 23 Juni 2026. 

"Penangkapan tersangka Zulfahmi dan Jufri dilakukan di Desa Jambong Mesjid, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe," ujar Eko. 

Eko menjelaskan, kasus ini bermula pada awal Juni 2026 ketika Tim 1 Satgas NIC dan Subdit IV yang dipimpin oleh Kombes Kevin Leleury dan Kombes Handik Zusen, menerima informasi terkait peredaran gelap narkotika jaringan internasional Thailand-Indonesia di wilayah Aceh. 

Menurut Eko, pihaknya mendapatkan kabar adanya pihak yang berencana berangkat ke Thailand untuk mengambil narkoba. 

"Berdasarkan informasi tersebut, tim gabungan NIC dan Subdit IV melakukan penyelidikan di sekitar pantai Blang Mangat, Lhokseumawe, Aceh," ujarnya. 

Kemudian, pada Selasa, 23 Juni 2026, pukul 20.00 WIB, petugas mencurigai sebuah mobil Honda HR-V yang keluar dari arah pantai Blang Mangat. Mobil tersebut diduga membawa narkotika. 

"Tim melakukan penghadangan di lokasi. Saat mobil dihentikan, pelaku sempat mencoba melarikan diri ke semak-semak, namun tim berhasil mengejar dan mengamankan kedua pelaku," katanya. 

Saat dilakukan pemeriksaan terhadap kendaraan tersebut, polisi menemukan barang bukti narkotika yang dibungkus dalam karung goni. 

"Kami menemukan 13 karung goni berwarna kuning. Setelah dibuka, isinya adalah kemasan teh China yang, menurut pengakuan kedua tersangka, berisi narkotika jenis sabu," tuturnya. 

Setelah mengamankan tersangka dan barang bukti, polisi melakukan pengembangan. Hasilnya, ditemukan dua orang lain yang berperan sebagai pengendali, yakni Muhammad Jabbar dan Mahlu, yang kini telah ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO). 

"Tim gabungan Subdit IV dan NIC Narkoba Bareskrim Polri sedang melakukan pengejaran terhadap MJ dan UA ke tempat yang biasa menjadi markas persembunyian mereka, baik di tambak maupun di kediaman pelaku," pungkasnya. (*/red)

Peta Buta Lapangan Kerja bagi Generasi Muda

By On Juni 30, 2026

Sejumlah pencari kerja mengantre saat pembukaan Bursa Kerja Kota Bogor 2026, di Plaza Jambu Dua, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin, 08 Juni 2026. 

Oleh: Jannus TH Siahaan 

Siapa yang dadanya tidak ikut sesak melihat anak-anak muda mengantre mencari kerja, ditemani orang tua mereka yang datang sekadar memberi dukungan moral? 

Para orang tua membesarkan dan menguliahkan anaknya dengan biaya yang tidak murah. 

Namun, kini anak yang mereka harapkan sukses pasca tuntas perkuliahannya justru kesulitan mencari sesuap nasi, jauh dari bayangan saat dulu mengantar mereka masuk ke kampus. 

Begitulah keadaannya saat ini, berat dan sulit. Bahkan, setelah mendapatkan pekerjaan pun, dengan gaji yang tidak seberapa, masih juga harus terpotong ini dan itu. 

Adilkah ini buat mereka para generasi muda yang katanya sebagai masa depan bangsa dan tulang punggung Indonesia Emas? 

Pemandangan seperti itu nyata dan terjadi di banyak kota. Di job fair Kota Tangerang akhir Juni 2026 lalu, di antara ribuan pelamar muda, berdiri pula sejumlah orang tua. 

Salah satunya seorang ibu yang menemani anaknya yang baru lulus, sebab ia ingin kelak, manakala anaknya dapat kerja, anaknya ingat ada jejak perjuangan ibunya juga di sana. 

Ada pula sarjana dari kampus ternama yang datang ditemani ibunya, semata agar mental sang anak kuat menghadapi antrean panjang yang mengharuskannya berlama-lama menunggu. 

Dulu, melamar kerja adalah penanda seorang anak mulai berdiri sendiri. Kini momen itu pelan-pelan berubah rupa, sebab anak butuh ditemani dan orang tua ikut berdebar mengawal di belakangnya. 

Mereka melamar ke gerai ritel, ke jaringan kuliner, ke mana saja yang masih membuka pintu. Ijazah yang dulu dibanggakan, tapi kini hanya tersimpan rapat di dalam map. 

Ada keheningan tertentu di antrean itu, keheningan orang yang berharap sambil menahan malu. Lalu, datang angka-angka yang seolah menghibur. 

Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka per Februari 2026 turun ke 4,68 persen, dan terdengar melegakan sampai kita lihat siapa saja yang ada di dalamnya. 

Dari sekitar 7,24 juta orang yang menganggur, justru lulusan perguruan tinggi yang angkanya berada di atas rata-rata nasional. Ijazah, yang dulu dianggap tiket, ternyata tak lagi menjamin kursi. 

Bagi yang sudah bekerja pun, rata-rata upah buruh menurut lembaga yang sama masih berkisar tiga jutaan rupiah sebulan, sebelum dipotong ini dan itu. 

Seorang sosiolog bernama Ronald Dore sudah menamai gejala ini sejak puluhan tahun lalu, dan ia menyebutnya sebagai penyakit ijazah. 

Diagnosisnya sederhana dan terasa akrab bagi kita, sebagaimana sering kita saksikan sendiri. 

Makin terlambat negara berbenah, makin sibuk rakyatnya berburu selembar gelar, dan makin tipis pula harga gelar itu. 

Kita rupanya murid yang patuh, sebab sawah lalu rumah dijual dan tabungan dikuras demi ijazah yang nilainya menyusut tiap musim wisuda. 

Yang menyakitkan, di banyak tempat harga sosial gelar malah lebih tinggi daripada isinya. 

Orang mengejar status sarjananya, bukan ilmunya, sementara bangku kuliah mengajarkan hal yang teoretis dan dunia kerja meminta keterampilan yang lain. 

Maka lulusan menumpuk, lowongan yang cocok sedikit, dan antrean pun mengular. 

Anak muda tetap disuruh kuliah dan tetap disuruh melamar, sebab di luar itu pilihannya nyaris tidak ada. 

Tidak kuliah dianggap menutup pintu, sementara kuliah pun belum tentu membukanya. Terjebak, tapi tetap harus melangkah. 

Sebagian anak muda bahkan mulai menghitung ulang. Ada yang mengurungkan niat melanjutkan kuliah, sebab biayanya berat sementara hasilnya tak lagi pasti. 

Pilihan yang dulu dianggap sudah jelas, kini terasa seperti semacam taruhan. Di sinilah pertanyaan adilkah di atas mulai menemukan jawabannya. 

Victor Tan Chen, sosiolog yang lama menyimak hidup para penganggur, menyebut keadaan macam ini sebagai meritokrasi yang pincang. 

Kita terus diberi tahu bahwa siapa yang rajin pasti naik dan siapa yang gigih pasti dapat, padahal kenyataannya tak sebersih itu. 

Mereka yang sudah di atas saling menjaga posisi dan mewariskan koneksi kepada anak-anaknya. 

Sementara yang di bawah disuruh, bahkan seolah dipaksa untuk percaya bahwa nasibnya murni buah tangannya sendiri. 

Aturan mainnya tampak adil di permukaan, padahal papan caturnya sudah miring sejak awal. 

Lihatlah tangga itu dari dua ujungnya. Di anak tangga paling bawah, ijazah diminta tanpa ampun, dan tanpa selembar kertas itu lamaran bahkan tidak akan pernah dilirik. 

Namun, semakin ke atas, kertas itu justru makin kehilangan harganya. Dari 580 wakil rakyat yang kini duduk di Senayan, menurut data KPU yang diolah Badan Pusat Statistik, tercatat 63 orang berbekal ijazah SMA dan ratusan lainnya bahkan tidak mencantumkan riwayat pendidikannya. 

Untuk menduduki kursi Dewan yang terhormat, tamat SMA memang sudah cukup. Sementara di luar gedung itu, sarjana berlapis S2 dan S3 justru masih kebingungan mencari kerja. 

Kursi komisaris di perusahaan milik negara pun setali tiga uang. Penelusuran lembaga pemantau mendapati sekitar enam dari sepuluh kursi itu dihuni kalangan birokrat dan politisi, dan tidak sedikit yang diisi atas dasar kedekatan serta balas budi politik. 

Di bawah orang diukur dari gelarnya, sedangkan di atas orang diukur dari kenalannya dan jasa politiknya. 

Di situlah kata adil mulai terdengar seperti lelucon yang tidak lucu. Coba timbang ironinya, sebab untuk menduduki kursi yang ikut menentukan nasib orang banyak, ijazah SMA tidak jadi soal dan penghasilannya bisa puluhan juta rupiah sebulan. 

Bahkan setelah berbagai tunjangan dipangkas menyusul gelombang protes, penghasilan bersih seorang anggota Dewan tetap masih di kisaran enam puluh lima juta rupiah, jauh di atas upah minimum di daerah mana pun. 

Sementara di luar sana, tidak sedikit lulusan S2 dan S3 yang mengisi pekerjaan kasar dan mengandalkan tenaga, dengan upah sekadarnya. 

Tidak ada yang rendah dari pekerjaan apa pun yang halal, dan yang terasa ganjil hanyalah jurang penghargaannya. 

Lihat pula nasib guru, orang yang sejak dulu kita sama-sama akui jasanya menyalakan pelita di kepala anak-anak kita. 

Menurut Badan Pusat Statistik, rata-rata guru honorer hanya menerima sekitar sembilan ratus ribu rupiah sebulan. 

Bahkan, survei mendapati tujuh dari sepuluh di antara mereka bergaji di bawah dua juta, jauh di bawah upah minimum. 

Belum lagi sekalipun berstatus honorer mereka mengarungi lautan dalam demi menunaikan kewajiban mengajar. 

Baru-baru ini di antara guru tersebut ada dua guru hilang di lautan menjadi korban keganasan ombak perairan Maluku. 

Sudah terbalik, bukan, dunia kita ini? Akibatnya pahit, sebab yang gagal kerap merasa itu salahnya sendiri. 

Anak muda yang sudah lelah mengantre masih harus menanggung rasa bahwa dirinya seorang pecundang, padahal keadaannya jauh di luar kendalinya. 

Beban yang semestinya kita pikul bersama malah ditimpakan sendiri-sendiri ke pundak yang paling muda. 

Dan bekasnya tidak berhenti hari ini saja, sebagaimana sering luput dari perhitungan kita. 

Menganggur di awal usia kerja meninggalkan luka panjang, dari penghasilan yang cenderung lebih rendah bertahun-tahun ke depan sampai kesehatan yang tergerus oleh rasa cemas. 

Apa yang tampak seperti jeda sebentar di masa muda bisa menjadi garis yang membayangi seluruh perjalanan hidup. 

Maka keluarga pun ikut menanggung, jauh setelah hari wisuda berlalu. 

Tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun habis untuk biaya yang belum tentu kembali. Dan orang tua, sebagaimana kita lihat di job fair itu, tetap memilih berdiri di samping anaknya. 

Maka jadilah pemandangan yang ganjil manakala direnungkan. Di satu layar kita dengar kabar gembira, bahwa jutaan lapangan kerja baru katanya dibuka di dapur-dapur program dan angka pengangguran katanya menurun. 

Di layar sebelahnya, sarjana ternyata masih berdiri di antrean ditemani ibunya, dan kalaupun dapat kerja gajinya tipis dan masih kena potong. 

Pekerjaan memang tercipta, tapi belum tentu pekerjaan yang dicari anak-anak muda yang telah bersusah payah meraih gelarnya. 

Coba tengok sebentar, Jerman, Austria, atau Swiss, yang pengangguran mudanya rendah dan adem justru karena mereka tidak memaksa semua orang kuliah. 

Di sana, jalur keterampilan dan magang dihormati setara dengan jalur akademik, dan anak muda diberi jalan yang benar-benar bersambung ke pekerjaan. 

Sementara di sini, kita ramai-ramai mencetak sarjana, lalu termangu memikirkan hendak ditaruh di mana mereka semua. 

Itulah peta buta yang kita wariskan kepada generasi muda. Ramai rambunya, riuh papan namanya, tapi tak satu pun benar-benar menunjukkan arah. 

Padahal, keadaan ini bukan nasib yang turun dari langit. Setiap perubahan ekonomi dan teknologi menyisakan pertanyaan yang sama, yaitu keuntungannya untuk siapa dan siapa yang diajak duduk di meja saat keputusan diambil. 

Manakala janji dibagi rata di musim kampanye, tapi kebijakan hanya menetes ke sebagian kecil manusia, yang muda pelan-pelan terdorong keluar dari ruangan tempat nasibnya sendiri dibicarakan. 

Ada satu hal yang sering luput dari perhitungan kita. Menelantarkan anak muda yang menganggur tidak cuma melukai mereka, tapi pelan-pelan juga memadamkan suara dan kepercayaan mereka. 

Diperlakukan dengan hormat mereka tetap percaya, sedangkan dipersulit dan dipermalukan mereka hanya diam lalu menjauh. 

Sebuah negeri yang membiarkan generasi mudanya berhenti berharap sedang menabung persoalan yang jauh lebih besar daripada angka pengangguran. 

Persoalannya menyangkut apakah anak-anak muda itu masih percaya bahwa kerja keras itu ada gunanya. 

Sebab kepercayaan yang padam jauh lebih sulit dipulihkan daripada lowongan yang hilang. 

Lalu apa yang bisa kita perbuat, sebagaimana selalu menjadi pertanyaan yang sulit dijawab? 

Tidak ada satu obat mujarab nan ajaib, tapi ada beberapa lapis yang bisa dikerjakan bersama, dari yang paling dekat dengan diri sampai yang paling jauh menyangkut kuasa. 

Lapis pertama yang paling dekat ialah berhenti menyalahkan diri sendiri, sebab antrean panjang itu bukan aib pribadi, dan menyadari hal itu saja sudah cukup meringankan langkah. 

Lapis kedua ialah pendidikan, dan di sini kita perlu berhenti menggiring semua orang ke satu jalur yang sama. 

Jalur keterampilan dan magang mesti dibuat terhormat dan benar-benar nyambung ke dunia kerja, sebagaimana sudah terbukti berhasil diterapkan di negeri-negeri maju tadi. 

Lapis ketiga ialah dunia kerja, agar aturannya lebih adil, upahnya layak untuk hidup, dan pintunya tidak hanya terbuka bagi yang kebetulan punya kenalan atau koneksi. 

Lapis keempat dan yang paling dalam ialah negara. Pastikan arah ekonomi dan setiap program yang digulirkan memang melayani yang muda, dan beri mereka tempat untuk bersuara. 

Jangan sampai mereka hanya dihitung sebagai angka yang katanya membaik, lalu dilupakan setelah pidato selesai. 

Pada akhirnya, yang diminta anak-anak muda itu sebenarnya sederhana. 

Mereka hanya ingin diberi sedikit kelapangan, berupa kesempatan yang masuk akal, penghargaan atas usaha, dan keadilan yang tidak berhenti di atas mimbar. 

Selebihnya mereka akan berjalan sendiri, sebagaimana sudah mereka tunjukkan selama ini. 

Orang tua yang setia menemani di barisan antrean itu sudah menunjukkan kepada kita bahwa cinta itu masih ada dan belum habis. 

Tinggal kita jawab bersama pertanyaan yang sejak tadi menggantung di udara. Adilkah ini buat mereka? 

Penulis adalah Pengamat sosial dan kebijakan publik. 

Sumber: kompas.com

Darya-Varia dan Mayapada Hospital Bandung Hadirkan Wound Care Center untuk Tingkatkan Kualitas Perawatan Luka di Indonesia

By On Juni 29, 2026

PT Darya-Varia Laboratoria Tbk ("Darya-Varia") jalin kerja sama strategis dengan Mayapada Hospital melalui peresmian Wound Care Center di Mayapada Hospital Bandung. 

BANDUNG, KabarXXI.ComPT Darya-Varia Laboratoria Tbk ("Darya-Varia") menjalin kerja sama strategis dengan Mayapada Hospital melalui peresmian Wound Care Center di Mayapada Hospital Bandung. 

Kolaborasi ini merupakan langkah nyata kedua institusi dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan perawatan luka yang modern, komprehensif, berpusat pada pasien dan berstandar internasional. 

Kehadiran pusat layanan ini menjawab tantangan perawatan luka kronis dan non-kronis (akut) di Indonesia yang masih memerlukan penanganan lebih terstandar. 

Sebuah studi dari Universitas Bhakti Kencana menunjukkan bahwa 60 persen responden pernah mengalami infeksi pada luka yang dirawat, sementara 75 persen menyatakan membutuhkan pelatihan teknis mengenai perawatan luka yang benar. 

Tantangan ini semakin relevan seiring meningkatnya jumlah pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes, yang berisiko mengalami komplikasi luka, serta tingginya kasus luka akut akibat operasi, trauma, dan kecelakaan. 

Menjawab kebutuhan tersebut, Wound Care Center hadir sebagai layanan terpadu untuk penanganan berbagai jenis luka, mulai dari luka diabetes, luka pasca operasi, luka akibat kanker, hingga penanganan bekas luka seperti jaringan parut (keloid), bekas luka menonjol (hipertrofik), dan perubahan warna kulit akibat luka (hiperpigmentasi), serta perawatan luka estetika. 

Didukung tim dokter multidisiplin, layanan ini berfokus pada pencegahan komplikasi serta optimalisasi pemulihan pasien, baik dari aspek fungsi maupun estetika. 

"Kami percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan akses terhadap perawatan luka yang modern, komprehensif, dan berpusat pada pasien serta berbasis standar medis unggulan. Sebagai Perusahaan yang memiliki visi membantu membangun Indonesia yang lebih sehat, Darya-Varia ingin mengambil peran aktif dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat. Oleh karena itu, kami sangat bangga dapat berkolaborasi dengan Mayapada Hospital Bandung yang memiliki sumber daya, tenaga kesehatan, serta komitmen yang sejalan dengan misi kami," ujar dr. Ian Kloer, Presiden Direktur Darya-Varia. 

Sebagai bagian dari kerja sama ini, Darya-Varia juga menghadirkan berbagai solusi yang mendukung penanganan luka modern, termasuk modern dressing, antibiotik topikal, serta teknologi Negative Pressure Wound Therapy (NPWT) yang membantu mempercepat proses penyembuhan luka pada berbagai kondisi klinis. 

"Keberhasilan penanganan luka kronis tidak hanya diukur dari kesembuhan dan tertutupnya luka, tetapi juga pada upaya mempertahankan fungsi organ dan mencegah komplikasi, agar pasien dapat kembali beraktivitas dengan nyaman dan optimal. Karena itu, Mayapada Hospital Bandung menghadirkan Wound Care Center sebagai layanan perawatan luka komprehensif berstandar internasional yang mengedepankan konsep modern wound care melalui kolaborasi tim dokter multidisiplin, alur klinis (clinical pathway) yang terstruktur, serta dukungan fasilitas dan teknologi modern," ujar dr. Irwan S. Hermawan, MM, Hospital Director Mayapada Hospital Bandung. 

Ia menambahkan, proses perawatan di Wound Care Center juga didukung oleh Wound Care Educator dari tim perawat yang berperan mendampingi pasien secara berkelanjutan, memastikan perawatan berjalan lebih terarah dan terkoordinasi, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga untuk perawatan luka di rumah guna mencapai hasil klinis yang optimal. 

Dengan dukungan tim dokter multidisiplin, alur klinis yang terstruktur, serta fasilitas dan teknologi modern, Wound Care Center dirancang untuk memberikan layanan perawatan luka yang komprehensif dan berpusat pada pasien.  

PT Darya-Varia Laboratoria Tbk ("Darya-Varia") jalin kerja sama strategis dengan Mayapada Hospital melalui peresmian Wound Care Center di Mayapada Hospital Bandung. 

Melalui pendekatan yang terintegrasi ini, pasien diharapkan dapat memperoleh penanganan yang lebih efektif, nyaman, dan konsisten sesuai standar kualitas layanan yang ditetapkan. 

Kolaborasi Darya-Varia dan Mayapada Hospital merupakan bagian dari komitmen jangka panjang kedua institusi untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia. 

Melalui kerja sama ini, kedua pihak berharap dapat memperluas akses terhadap layanan perawatan luka yang modern dan terstandar, sekaligus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. 

Sejalan dengan upaya menghadirkan solusi kesehatan yang terintegrasi, komitmen Darya-Varia dalam mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan juga diwujudkan melalui Medical Science Center (MSC), sebuah perpustakaan elektronik yang menyediakan akses ke berbagai jurnal ilmiah internasional dan sumber referensi medis bagi mahasiswa kedokteran, dokter, serta tenaga kesehatan. 

Hingga saat ini, MSC telah hadir di enam rumah sakit pendidikan di Indonesia. Melalui inisiatif ini, Darya-Varia terus mendukung pengembangan pengetahuan dan kompetensi tenaga medis guna meningkatkan kualitas perawatan pasien di Indonesia. 

Tentang Darya-Varia

PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (“Darya-Varia” atau “Perusahaan”) adalah perusahaan farmasi yang telah beroperasi sejak tahun 1976. 

Selama 50 tahun, Darya-Varia terus berkontribusi dalam mendukung Indonesia yang lebih sehat dengan menyediakan produk kesehatan berkualitas tinggi di bawah merek-merek yang dipercaya masyarakat Indonesia. 

Darya-Varia memproduksi dan mengembangkan berbagai produk obat resep dan produk kesehatan konsumen berkualitas tinggi di dua fasilitas produksi berstandar internasional yang berlokasi di Gunung Putri dan Citeureup, Bogor. 

Kedua fasilitas ini telah menerapkan Sistem Jaminan Halal dan memenuhi standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) internasional serta telah tersertifikasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia. 

Tentang Mayapada Healthcare

Mayapada Healthcare (PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk.) (“SRAJ”) merupakan pilar bisnis Mayapada Grup (didirikan oleh Dato’ Sri Prof. DR. Tahir pada tahun 1986) di bidang jasa layanan kesehatan yang mengoperasikan tujuh rumah sakit dengan lebih dari 1.200 beds dengan lebih dari 1.500 tenaga medis profesional. 

Mayapada Hospital telah menerima berbagai akreditasi dan penghargaan serta 11 layanan unggulan ‘Center of Excellence’. 

Tujuh rumah sakit Mayapada Healthcare terdiri dari Mayapada Hospital Tangerang, Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Mayapada Hospital Bogor, Mayapada Hospital Kuningan, Mayapada Hospital Surabaya, Mayapada Hospital Bandung, dan Mayapada Hospital Nusantara. 

11 ‘Center of Excellence’ Mayapada Hospital meliputi: Tahir Neuroscience Center, Tahir Uronephrology Center, Cardiovascular Center, Gastrohepatology Center, Oncology Center, Orthopedic Center, Obstetrics & Gynecology Center, Pediatric Center, Internal Medicine and Pulmonology Center, Allergy-Immunology Center, dan Mayapada Autoimmune Center Indonesia sebagai pusat layanan pertama dan satu-satunya di Indonesia. (*/red)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *