Di Balik Hidupnya Ponton Isap Jada Bahrin: Peran Kamal dan Dugaan Proteksi ‘Satgas Timah’

Bangka, kabarxxi.com — Aktivitas tambang timah ilegal jenis ponton isap di kawasan Jada Bahrin kembali berdenyut. Di tengah kebangkitan operasi yang sempat meredup akibat penertiban, satu nama kembali mengemuka dan menjadi sorotan utama: Kamal. Sosok ini disinyalir kembali mengkondisikan jalannya tambang ilegal, dengan pola yang lebih rapi dan terstruktur. Mnggu 25 Januari 2026

Informasi yang dihimpun menyebutkan, hidupnya kembali ponton-ponton isap tidak terjadi secara alami. Aktivitas tersebut diduga berjalan atas pengaturan yang sistematis, mulai dari waktu operasional, pengondisian lapangan, hingga pengamanan aktivitas agar tetap berlangsung meski berada dalam pengawasan aparat. Kamal disebut sebagai figur sentral yang mengoordinasikan semuanya.

Lebih jauh, beredar dugaan kuat bahwa Kamal bekerja sama dengan oknum yang mengatasnamakan “satgas timah”. Klaim “satgas” ini disebut-sebut digunakan sebagai tameng legitimasi di lapangan, seolah memberi rasa aman bagi para penambang untuk kembali menurunkan ponton isap ke perairan Jada Bahrin. Dugaan kerja sama ini memunculkan persepsi bahwa aktivitas ilegal tersebut memiliki perlindungan tidak resmi, namun efektif.

Sejumlah warga mengungkapkan, sejak narasi keterlibatan “satgas timah” mencuat, aktivitas ponton isap kembali berlangsung terang-terangan. “Ponton mulai rapat lagi, mesinnya hidup hampir tiap hari,” ungkap seorang warga. Kondisi ini menambah keresahan masyarakat, mengingat dampak lingkungan yang ditimbulkan serta kesan bahwa hukum seolah bisa dinegosiasikan.

Yang menjadi tanda tanya besar publik, hingga kini belum terlihat penindakan serius yang menyentuh aktor pengendali di balik aktivitas tersebut.
Nama Kamal terus beredar, namun belum ada kejelasan proses hukum. Dugaan keterlibatan oknum yang mengatasnamakan “satgas timah” justru memperkuat kecurigaan bahwa tambang ilegal ini tidak berdiri sendiri, melainkan berada dalam pusaran kepentingan yang lebih besar.

Kembalinya tambang ilegal ponton isap di Jada Bahrin bukan sekadar pelanggaran hukum biasa. Ia menjadi potret telanjang bagaimana jaringan lama bisa bangkit kembali dengan wajah baru. Selama Kamal dan dugaan kolaborasi dengan “satgas timah” tidak diusut tuntas, aktivitas ilegal ini berpotensi terus berulang—meninggalkan kerusakan lingkungan dan pertanyaan serius tentang keberpihakan penegakan hukum. (Re*/syahrial)

Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *